Tampilkan postingan dengan label Dunia Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2020

Puisi Juang 1

 

RATUSAN KILOMETER

 

Jika ini adalah takdir

Akan selalu aku ukir

Jika ini adalah jawaban doaku

Akan selalu aku tuju

 

Ini adalah sebuah perjalanan

Yang aku dan mereka nantikan

Perjalanan untuk memenuhi janji pada illahi

Pada-Nya yang selalu kucintai

 

Ratusan kilometer jarakku

Ratusan kilometer kesepianku

Ratusan kilometer rinduku

Ratusan kilometer tanggung jawabku

Jumat, 10 April 2020

Cerita Pendek (Cerpen) Berbincang Covid-19/Corona

Berbincang COVID-19

Pagi hari, aku  dan Ibu berada di kamarku untuk mempersiapkan pembelajaran daring jam pertama yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku sedang mempersiapkan buku tugas, alat tulis, lembar kerja siswa (LKS), laptop dan gawai. Sementara itu, Ibu mempersiapkan mengambil cemilan untuk menemaniku melakukan pembelajaran daring. Ibu tidak hanya mengambilkan cemilan langsung pergi begitu saja, tetapi Ibu mendampingiku untuk melakukan pembelajaran daring. Ketika aku sedang membuka laptop untuk pembelajaran daring Bahasa Indonesia aku berbincang tentang Covid-19 dengan ibu.
“Ibu virus Corona itu apa? Kata Bu Guru libur 14 hari untuk memutus penularan virus Corona.” tanyaku sembari mengambil buku tugas Bahasa Indonesia dan LKS di rak buku.
“Virus Corona itu virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus itu pertama kali ditemukan di kota Wuhan Cina pada akhir Desember 2019. Nah, nama lain virus corona yaitu Covid-19,” jawab Ibu sambil meletakkan cemila di meja belajarku.
“Oh.. ternyata virus corona dan Covid-19 itu sama... Virus itu asalnya dari mana tho, Bu? Hewan atau manusia?” tanyaku sambil membuka laptop di meja belajar.
“Virus itu diduga dari hewan kelelawar, Nak. Diduga virus tersebut tersebar di salah satu pasar binatang liar di Wuhan,” jawab Ibu sambil membuka whatsapp dari guruku mengingatkan akan dimulai pembelajaran daring Bahasa Indonesia.
“Oh begitu tho, Bu... Pembelajaran daring Bahasa Indonesia sudah dimulai Bu, Rana pelajari video pembelajaran dari Bu Guru dulu ya,” ucapku sambil membuka whatsapp grup untuk memperhatikan arahan dari Bu Guru.
“Iya, Nak. Kalau sudah selesai bolehlah ngobrol lagi tentang corona atau covid-19,” ucap Ibu sambil merapi buku-bukuku yang ada di rak buku.
“Bu.... Bu.... ternyata Rana setelah mempelajari video pembelajaran tentang cerita pendek, Rana disuruh Bu Guru untuk membuat cerita pendek tentang Covid-19, Bu,” ucapku sambil menepuk punggung Ibuku.
“Wah,, kok bisa pas dengan apa yang kita obrolkan ya, Nak. Ya sudah sana kerjakan!” lanjut merapikan buku.
“Bu... bantu Rana untuk membuat cerita pendek tentang corona ya. Kan Ibu dokter pasti tahu apa itu Covid-19,” ucapku sambil memegang tangan ibu.
“Iya... iya.. anakku sayang.” ucapku sambil memeluk Rana.
(sambil melihat panduan pembelajaran bahasa Indonesia di laptop) “Bu, ini Bu Guru memberikan arahan kalau isi cerpennya mengenai apa gejala orang yang terkena virus Corona, bagaimana caranya supaya tidak tertular Corona dan apa itu social distancing. Memang, gimana gejala orang yang terkena virus Corona? ” tanyaku sambil memandang ke wajah ibu.
“Gejala orang yang terkena virus corona itu demam diatas 38 derajat celcius, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala dan sesak napas,” jawab Ibu sembari kembali ke tempat duduk sampingku.
“Oh, berarti kalau ada gejala kayak gitu harus cepat-cepat ke rumah sakit, Bu?” ucapku sambil memandang ibu.
“Iya, Nak. Supaya bisa tertangani lebih awal dan bisa sembuh. Ada orang yang kena virus ini sampai meninggal. Virus ini berbahaya untuk orang yang sudah tua, ibu hamil, orang yang sedang sakit dan orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah,” ucap Ibu sambil memandangku.
“Biar memiliki daya tahan tubuh yang nggak lemah gimana caranya, Bu?” ucapku sembari menulis point penting mengenai virus Corona.
“Caranya kamu harus makan makanan yang bergizi dan teratur, olahraga yang teratur,  istirahat cukup 7-8 jam per hari, tidak stress dan tidak merokok serta minum alkohol,” jawab Ibu sembari membuka toples cemilan. 
“Oh begitu tho, Bu. Lalu, gimana caranya biar enggak tertular virus Corona?” tanyaku sambil mengambil cemilan.
“Eh... Eh.... sudah cuci tangan belum?” tanya Ibu dengan nada tinggi.
“Sudah dong, Bu. Kan sebelum makan atau minum harus cuci tangan dengan sabun, Bu.” jawabku sambil memakan cemilan.
“Oh iya sudah. Ibu lanjutkan ya, biar enggak tertular kamu harus mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, kalau lagi bersin memakai masker, dan jika bersin ditutup pakai siku-siku tangan bukan telapak tangan, menjaga daya tahan tubuh, tidak pergi ke negara terjangkit dan menghindari kerumunan atau keramaian,” ucap Ibu sambil mengambil cemilan.
“Oh pantesan sekolah diliburkan ternyata itu salah satu cara biar nggak tertular virus Corona,” ucapku sambil mengangguk-angguk.
“Lalu, social distancing itu apa, Bu?” tanyaku sembari menulis point penting  dari penjelasan ibu.
Social distancing atau  pysical distancing itu masyarakat diminta oleh pemerintah untuk menghindari hadir di pertemuan besar atau kerumunan orang. Tidak perlu bersentuhan fisik seperti bersalaman atau berpelukan. Jaga jarak jika sedang bertemu orang lain kurang lebih 1-2 menter. Dan hindari tempat umum,” jawab Ibu sambil membuka whatsapp dari guru bahasa Indonesia yang memberitahukan jika saatnya untuk menulis cerita pendek tentang Covid-19.
“Oh begitu ya, Bu. Pantesan disuruh di rumah aja. Ya sudah Bu, sekarang Rana mau buat cerpen dulu ya, Bu. 45 menit harus sudah dikirim ke whatsapp Bu Guru,” ucapku sambil membuka buku tugas Bahasa Indonesia.
“Iya, Nak. Jangan lupa nulisnya yang jelas dan rapi,” ucap Ibu sambil mengusap kepalaku.
“Siap, Bu!” jawabku sambil memandang ibu dan hormat.
Begitulah perbincangan Covid-19 antara aku dan Ibu. Mari kita bersama-sama mendukung pemerintah untuk memerangi virus ini. Semoga Indonesia lekas membaik. Jadi, mari #dirumahaja untuk memutus mata rantai penularan virus Corona.


Penulis : Nurlaili Irias Putri 

Penyunting : Sri Mahmudah 

#pembelajarandaringbahasaIndonesia

Rabu, 18 Maret 2020

Zaman Milenial

"Tidak melulu belajar menggunakan buku paket atau lembar kerja siswa (LKS) tetapi gawai pun dapat digunakan untuk pembelajaran."

Jiwa-Jiwa Yang Hilang


JIWA-JIWA YANG HILANG

Oleh  Nurlaili Irias Putri

T
iupan angin yang kencang dan mengahancurkan rambut-rambut putih di kursi pantai dengan suara-suara gemuruh ombak yang membuat batin dan pikiran ini tenang. Perahu yang berjajar membentuk sebuah barisan bersap tanpa rapi, mulai membelah lautan dengan sayap-sayap perahu yang kuat. Ribuan lubang-lubang jaring lemah gemulai di atas istana yang akan menjadi buruan. Seikat batu pun diturunkan ke istana yang memiliki ribuan pasukan yang siap berperang dan perempuan cantik. Aku memanggil perempuan cantik tersebut dengan sebutan Sang Putri Laut. Sang Putri Laut menguak dari tempat berlindungnya, mengingatkan pada kehidupanku sepuluh tahun yang lalu. Dimana istana ini aku anggap sebagai tempat yang paling nyaman tetapi menjadi tempat yang terkutuk. Istana Nelayan merupakan sebuah istana yang seharusnya makmur akan tetapi yang membuat kemakmuran itu telah dijaring oleh orang-orang tanpa dosa yang terkutuk. Istana yang seharusnya memiliki sumber daya alam yang limpah ruah kini menjadi tenggelam sumber daya alam tersebut. Istana yang menjadi temapt eksploitasi oleh orang-orang tanpa dosa sungguh orang-orang yang tak berperi kemanusiaan. Ibarat seorang nelayan yang menggunakan jarring yang lebar dan kuat untuk dapat  menjaring seluruh isi yang ada didalamnya. Orang-orang yang ada didalam jaring itu pun hanya bisa melarikan diri jika ia memang kuat dan berani, mereka yang yakin akan bisa meloloskan diri, jangan sampai mengalami yang namanya putus asa. Jika meraka beranggapan mereka tidak kuat, tidak berani, tidak yakin, dan mudah putus ada itulah mereka yang ada didalam jaring-jaring tersebut.  Bak seekor ikan paus bersama dengan ikan kecil-kecil yang terjerat oleh jaring tersebut kemudian ia akan terus berusaha untuk merobekkan jaring tersebut supaya ia dapat meloloskan diri dan membantu meloloskan ikan-ikan kecil juga. Meskipun pada saat  mencoba merobek jaring itu satu dua kali tidak bisa tetapi si paus tersebut masih berusaha tanpa mengenal putus asa. Dalam kita berkehidupan hendaklah memiliki sifat yang seperti itu. Berfikirlah bawa kalian kuat, berani, yakin apapun yang akan dilakukan, dan tidak kenal putus asa. Sehingga hidup kita akan tentram dan makmur.
            Aku masih duduk dibawah paying menggunakan kursi pantai yang membuatku nyaman. Memejamkan mata merasakan sejuknya udara, perkelahian para ombak yang tak henti. Dan air yang menari lentur di pasir yang putih dan halus ini. Lima puluh tahun lalu aku hanyalah bocah ingusan yang gemar pergi kepantai membuatku pantai dan nelayan adalah magnet kehidupanku. Hari-hari yang hanya dijumpai dengan air, ombak, kepiting, pasir, perahu. Hidup yang setiap harinya melihat para orang-orang tanpa dosa menjarah isi lautan tanpa mengenal untuk mengembangbiakan. Lima puluh tahun lalu aku hanyalah seekor ikan teri yang pergi kemana-mana bersama gerombolannya. Arah yang ditentukan dengan arus yang menghanyutkan di derasnya ombak-ombak yang sedang bermain drumband. Hidup ini hanya mengikuti alur yang telah digariskan oleh Maha Cipta alam semesta ini. Hanya mampu pasrah dan menatap langit ketika jaring berlari mengerjar kami dan sirip-sirip yang tak mampu berlari dengan kencang. Perut yang mulai berdendang menggoa kami untuk menyantap makanan yag sebenarnya itu adalah sebuah jebakan. Jebakan dari orang-orang tanpa dosa yang menjadikan kami pasrah. Saat itu Aku berkhayal, membayangkan jika diriku adalah seekor paus yang memiliki tenaga kuat, gigi yang tajam ketika orang-orang tanpa dosa menjarah kami, aku bisa membebaskan mereka. Orang-orang tanpa dosa yang menyusup dalam kehidupan kami yang tenang dan makmur ini. Dalam batinku berkata ketika kita sudah diciptakan sebagai seekor hewan teri kemudian menjadi seekor paus apakah kita berdosa? Apakah Tuhan marah kepadaku atau sebaliknya?. Entahlah, akan tetapi aku berjuang untuk mengubah takdir itu karena ika paus dan ikan teri hanya sebagai perumpamaan dalam kehidupanku. Lima puluh tahun berlalu, dengan tekad berjuang dan berkorban akhirnya seekor ikan teri yang kecil mungil dan hanya mampu berjalan mengikuti arus dapat berubah menjadi seekor ika paus yang kuat dan memiliki gigi yang tajam.
            Namaku Putri yang biasa dipanggil Eyang Putri. Yang sekarang sudah menjadi seorang nenek-nenek tua yang tanpa mampu lagi berjalan tegap. Aku lahir pada tahun 1947. Dua tahun setelah hari kemerdekaan Indonesia. Tubuhku yang tak mampu berdiri tegap, kulit-kulit yang mengkerut. Tulang belulang yang hanya terbungkus dengan dengan selembar kulit ynag tak kuat lagi. Putri berarti anak perempuan raja, bukan berarti saya adalah seorang anak raja. Aku hanyalah seorang anak dari seorang laki-laki dan perempuan dari kalangan biasa saja. Tetapi keinginanku bukalah sekedar yang biasa-biasa saja. Aku memimpikan seseorang yang terkenal, bermartabat, dan disegani oleh setiap orang di dunia ini. Tapi aku hanyalah dilahirka dari seorang yang biasa saja yaitu seorang anak nelayan. Istana laut yang mencari pemenuh kebutuhan hidup yang serakah ini. Seluruh waktunya hanya digunakan untuk mendengarkan suara angin yang melambai-lambai, suara ombak yang bergemuruh, pohon-pohon kepala yang sedah asyik untuk berdendang bersama dengan barisan yang rapid an pohon yang lebar. Laut yang memiki banyak sekali sumber daya alam yang seharusnya dapat dimanfaat dengan maksimal akan tetapi hanya ikan, ikan, dan ikan yang mereka mengerti. Ketika mereka sibuk dengan kehidupan dilaut mungkin mereka tidak mengetahui mengenai pancasila, sumpah, pemuda, dan mungkin hari kemerdekaan pun mereka tidak tahu. Aku pernah melihat seluruh warga nelayan tersebut berkumpul bersama dikelurahan saya berfikir mungkin mereka sedang berdiskusi ternyata mereka sedang melihat layar tancap. Karena disetiap rumah mereka belum tentu ada televisinya. Pada tanggal 17 Agustus 1957 yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu usia saya 10 tahun. Semua stasiun tv hanya menyiarkan prosesi pengibaran dan penurunan bendera merah putih saja. Menurut beberapa orang momen tersebut adalah momen penting karena untuk mengingat kembali msa-masa kemerdekaan katanya. Aka tetapi bertolak belakang dengan Aku. Aku mungkin salah satu orang yang tidak memperdulikan hal tersebut. Karena menurut keluarga momen penting adalah mancari ikan dilaut. Aliasnya laut, laut, dan laut. Hanya itu saja. Melihat prosesi penurunan dan pengibaran bendera merah putih saya tak aku lihat apalagi untuk tahu menganai pancasila, sumpah pemuda, dan mungkin mereka tidak ingin kapan hari kemerdekaan Indonesia karena mereka sibuk dengan urusan dilautnya.
            Di Istanaku, istana yang memiliki kemiringan dalam pendidikan. Karena seluruh warga disana berfikiran lebih baik mencari uang,uang, dan uang. Ke laut, laut, dan laut. Aku berfikir seperti itu karena di istana kami tak ada satupun sekolah bahkan tak ada satu pun relawan guru untuk memberikan ilmu kepada kami. Dikota-kota sekolah dan guru adalah hal yang biasa karena pasti banyak dijumpai. Akan tetapi diistana kami tak kami temukan satupun. Sungguh malang istnaku yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Akan tetapi suatu hari ada seorang perempuan yang berbadan tinggi, bertubuh langsing, dengan rambut yang terurai indah panjang, dan bersepatu yang ketika melangkah memperlihatkan suara yang berjalan tegap dan tegas. Perempuan  itu bernama Ibu Laili. Ibu laili berasal dari Jepara Jawa Tengah. Ia lulusan dari Universitas ternama di Jawa Tengah. Ia lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Beberapa hari ia tinggal diistana kami ia mendatangi ketua dari istana nelayan. Kami kira ia ingin mendaftarkan dirinya sebagai warga istana kami yang baru akan tetapi ia ingin menjadi seorang guru di istana kami. Ia berkata kepada ketua kami.
“Pak, mohon maaf mengganggu. Saya Laili saya melihat disini tidak ada sekolah satu pun. Apakah memang disini tidak ada atau bagaimana Pak?”
“Begini Bu, Disini memang tidak ada sekolah satu pun karena tak ada satu pun guru yang berminat atau ditugaskan disini Bu.”
“Mengapa seperti itu Pak?”
“Saya kurang tahu, Bu.”
“Akan tetapi saya sudah berulang untuk kali menanyakan hal tersebut kepada pemerintah. Pemerintah sudah mengatakan Iya akan kami proses akan tetapi sampai sekarang tidak terwujud.”
“Bagaimana kalau saya mengajar disini Pak? Bolehkah?”
“Yakin ibu ingin mengajar di istaa kami ini?”
“Iya Pak saya saggup mengajar di istana ini Pak.”
“ Iya sudah  silahkan, Bu. Terima kasih ya Bu. Akhirnya di istana kami ada guru yang sanggup untuk mengajar. Sehingga di istana kami tidak megalami keterbelakangan dalam pendidikan.”
“Sama-sama Pak. Mohon bantuannya ya Pak.”
            Rasa yang luar biasa ketika saya mendengarkan hal baik itu dibolehkan oleh ketua istana. Tantangan terbesar bagaimana aku bisa membuat mereka anak-anak di istana tersebut tertarik dengan pengajaranku. Setelah mendengar keputusan itu Aku bergegas menata rumahku. Aku hiasi supaya mereka menarik untuk bersekolah. Rumah kecil yang sudah usah dan reyot adalah sekolah bagi mereka. Kemudia saya kekota untuk membelikan mereka buku, alat tulis, dan peralatan untuk bersekolah lainnya. Karena diistana itu tidak ada dijual barang-barang untuk sekolah karena disana tidak ada sekolah. Jangankan menjual barang-barang sekolah, barang-barang untuk nelayan saja jarang dijupai disini padahal itu merupakan kerja mereka satu-satunya.
            Waktu terus berputar waktunya aku mulai untuk berjuang. Aku mulai satu persatu mendatangi istana-istana yang indah-indah itu satu per satu. Aku mengajak ngobrol orang tua mereka kemudian aku bertanya kepada anak mereka apakah mereka ingin bersekolah atau tidak. Ketik saya bertanya kepada orang tuanya.
“Ibu, Bapak, perkenalkan saya Laili dari Istana Permai.” (dengan senyum dengan penuh harapan)
“Iya Bu, silahkan masuk Bu.”
“Ada apa ya Bu?”
“Begini Pak, Saya membuat Sekoalh di Istana ini. Saya ingin anak-anak di Desa ini Bersekolah Pak. Supaya ia tidak hanyamempunyai pekerjaan sebagai nelayan saja. Akan tetapi bisa menjadi guru, dokter, tentara, dan lain-lain.”
“Kalau saya terserah kepada anak Saya Bu.”
“Saya mau saya mau sekolah.”
“Baik Dik, besok mulai sekolah dirumah ibu ya.”
“Tidak perlu membawa alas tulis karena ibu sudah sediakan dan cukup pakai baju sehari-hari saja Nak, tak perlu memakai seragam ya Nak.”
“Baik Bu.”
“Yeee..yeeee… Aku sekarang sekolah.”
Aku melanjutkan ke istana-istana yang lain. Orang tuanya juga sama jawabannya seperti itu. Disitu aku merasa senang dan bersyukur. Dalam hatiku senang sekali. Hampir 20 istana yang saya datangi mereka ingin sekolah. Dalam hati juga berharap semoga mereka datang semua. Tetapi sekelibat tersirat pikiran jika mereka tidak berangkat. Karena orang tua mereka ekpresi yang diungkapan bertolak belakang dengan si anak.
            Hari keesokan aku tetap optimis jika dua puluh anak tersebut datang semua. Akan tetapi hari sudah mulai siang tak ada satupun langkah kaki yang terdengar. Bayangan pun mulai kelam. Hati mulai berdebar-debar, merasakan kebingungan yang mendalam. Sempat berfikir akankah perjuanganku ini sa-sia? Entahlah. Udara panas mulai menyemburkan sehingga aku mulai berfikir bagaimana jika aku yang mengunjungi mereka dirumahnya. Tanpa berfikir pnjang Aku mulai mengambil sandalku yang lusuh dan sepeda yang tedengar bunyi krek-krek-krek ketika di kayuh. Aku mulai berjalan diatas jalan yang halus sehingga ketika terkena hujan jalanan tersebut berubah menjadi lumpur. Ketika sudah mulai melewati istana-istana tersebut tertutup pintunya. Itu untuk rumah pertama. Aku berfikir mungkin rumah yang pertama mereka sedang pergi. Kemudian aku mengayuh sepedaku kembali menuju istana selanjutnya. Aku berharap semoga istana selanjutnya tidak tertutup pintunya. Ternyata benar, sesampainya diistana yang kedua memang tidak tertutup akan tetapi orang tuanya berkata seperti ini “Maaf Bu, anak saya tadi sudah berangkat ke laut untuk membantu ayahnya mencari ikan Bu.” Berfikir positif pun muncul mungkin anak tersebut lupa jika hari ini ada sekolah karena belum merupakan kebiasaan tetapi membantu orang tuanya dilaut adalah sebuah kebiasaaan. Aku mulai pamit dan kembali menuju rumah selanjutnya akan tetapi responnya juga sama. Rasa putus asa mulai menghampiri. Sehinngga hari kedua dan hari ketiga aku tak melakukan apa-apa. Hari keempat pagi-pagi aku ingin pergi ke pantai untuk menyegarkan otakku.
            Udara pantai memang menengkan, suara burung yang berperang, gemuruh ombak yang menggulung-gulung dengan tenang. Pagi itu, mulai para nelayang mulai berlayar. Tanpa aku sengaja utuk kepantai dengan alasan meneliti apakah benar anak tersebut membantu orangtuanya untuk berlayar akan tetapi untuk menenangkan fikiran. Akibat rasa penasaranku yang tinggi aku pun menyelidiki apakah benar anak-anak tersebut membantu orangtuanya dilaut. Ternyata setelah aku selidiki tak ada satu pun orag tua yang membawa anaknya pada hari kemarin dan kedepan karena ketua istana memrintahkan kepada orangtua yang memiliki anak supaya anaknya tidak mengikuti mencari ikan dilaut akan tetapi untuk bersekolah. Muncul rasa penasaran lagi mengapa dirumah tidak ada dan diluat tidak ada tetapi tidak bersekolah juga dirumahku. Ada kejanggalan yang mulai menghantui pikiranku. Aku mulai menyelidiki satu persatu.
            Aku mencari anak-anak tersebut ditempat bermain. Ternyata hanya ada dua orang anak yang bermain. Kemudian aku menghampirinya. Aku tidak mengira jika mereka meresponku seperti hantu. Tetapi aku kejar mereka. Kemudian hanya satu anak yang tertangkap.
“Saya ingin bersekolah Bu, akan tetapi orang tua saya tidak setuju Bu.”  
“Bukankah kemarin orangtuamu meyetujuinya?”
“Memang ketika didepan ibu mereka menyetujuinya. Tetapi sebenarnya mereka tidak setuju. Mereka tak mau memperlihatkan tidak setujunya mereka.”
“Alasannya apa Nak?”
“Saya hanya boleh dirumah membantu ibu dan ayah saja. Tetapi saya ingin bersekolah Bu.”
“Baiklah, besok ibu coba untuk menghubungi orangtua mu dan menjelaskannya.”
Keesokan harinya saya menuju rumah si Anak tersebut. Anaknya bernama Rizi. Waktu yang epat ternyata ayah dan ibunya Rizi ada dirumah. Ketika aku sedang menaruh sepeda  dengan bergegas ibu dari Rizi menutup pintunya. Kemudian  aku mengetuk pintunya. Tak ada shutan sedikit pun padahal tadi jelas-jelas terbuka. Setelah tiga jam aku menunggunya di depan istananya. Orang tua dari Rizi membukakannya. Dengan nada yang tinggi orangtuanya berkata kepadaku.
“Ada apa Anda kesini!”
“Mohon maaf sebelumnya Bu. Saya disini hanya ingin menjelaskan menengai pentingnya sekolah dan mengajak anak ibu untuk bersekolah.”
“Sudah pergi saja! Lebih baik anak saya membantu kami bekerja daripada bersekolah! Hanya meghabiskan uang saja!”
“Tidak Bu. Dengan belajar anak itu akan mendapatkan ilmu dan ilmu tersebut akan membantu anak ibu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan mendapatkan gaji yang lebih tinggi Bu. Sehingga kehidupan ibu dan bapak dapat terangkat.”
Kemudian ibu dan bapak tersebut membuka pintunya dengan perlahan dan berkata “Iya sudah saya menyetujui anak saya untuk bersekolah.” Rasa syukur yang teramat dalam dan seyum yang merekah dari bibirku. Kemudian orangtuan dari dua puluh anak tersebut mengikuti  untuk memperbolehkan anaknya mengikuti sekolah. Hari yang sangat indah. Aku berpesan kepada anak-anakku jangan sia-siakan kepercayaan orangtua kalian untuk bersekolah. Lakukan yang terbaik untuk mereka. Angkatlah derejat dan martabat mereka. Persekolahan pun berjalan dan alhamdulilah kami mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membangun sekolah dan pada akhirnya istana yang berisikan sumber daya yang melimpah itu kemudian tidak hanya ikan saja yang merekan manfaat tetapi kelapa, pantainya yang dijadikan obyek wisata, dll karena mereka punya ilmu dan kemauan. Sehingga mereka bisa merubah perekonomian tersebut dan mensejahteraankan Istana Nelayan.

Selasa, 02 Januari 2018

Kentrung dan Rumah Kardus

KENTRUNG DAN RUMAH KARDUS

Oleh Nurlaili Irias Putri

M
bak kapan ke sini lagi? Sapa seorang anak perempuan berkerudung pink yang duduk tepat di depanku. Tangan mungilnya selalu melambai-lambai kepadaku.  Aku mendekatinya dan menatapnya seraya menaikkan alisku yang tebal ini. “Mbak kapan kesini lagii?” gadis kecil itu mengulangi pertanyaannya kembali, kali ini dengan nada yang lirih dan penuh rasa manja. Aku menghabiskan satu sendok terakhir es kolak yang ada di tanganku lalu meletakkannya di atas bangku tempat kami duduk. Lalu aku berkata kepada si gadis kecil “Mmm, kapan ya? Kamu maunya kapan? Emangnya kamu mau Mbak ke sini lagi?”
            Si gadis kecil itu yang memakai pakaian serba pink itu menggeser duduknya sehingga lebih dekat denganku. Ia pun mulai berkata dalam satu tarika napas, “ Iya Mbak, aku pengen mbak kesini lagi. Ngedongengin lagi kayak tadi, atau baca cerita dan ajarin aku belajar lainnya”. Iya sore ini memang kami berdua sedang asyik bermain berdua di alon-alon kota ini. Kota kembang yang penuh dengan bunga dan kenyamana. Ketika menghirup udara, udara yang segar dan bersih yang masuk dalam tubuh kami. Beberapa menit lagi kami akan berbuka puasa. Ya, kami. Aku dan teman-teman kuliahku bersama dengan anak-anak jalanan di sekitar alon-alon Bandung ini melakukan buka bersama. Ramadan tahun ini saya dan rekan kuliah saya ingin memberikan sedikit rezeki yang kami sisihkan dari uang jajan kami kepada anak-anak jalanan yang kekurangan makanan dan kami mendongeng untuk anak-anak jalanan itu. Kami ingin menghidup anak jalanan itu dengan cara yang kami bisa. Kami dari jurusan bahasa dan sastra Indonesia yang salah satu kami bisa adalah mendongeng. Sebenarnya itu adalah acara rombel untuk melakukan buka bersama akan tetapi bukan bersama dengan teman kuliah sama dengan hari-hari biasa ketika tidak Ramadan. Hanya makan dan berbagi cerita untuk sendiri. Tetapi tahun ini kami ingin berbagi kepada mereka. Anak-anak jalanan.
            Aku sendiri baru saja mendongengkan Maling Kundang sambil berperan sebagai ibunya Malin di depan anak-anak usia SD dan SMP ini. Setelahnya seperti biasa, aku mengajak mereka dan rekan-rekan kuliahku untuk bermain games bersama. Mulai dari games ular naga yang menyebutkan kembali nama-nama yang sudah diperkenalkan, dan games peta umpet. Senang ketika bisa menghibur mereka ketika bulan yang penuh berkah seperti ini. Senyum-senyum merekah, suara-suara mencuat dengan keras, dan meskipun bercucuran keringan dari tubuh tapi itu semua terbanyar dengan senyum mereka. Sesama manusia didunia marilah berbagai meskipun itu hanya dengan melakukan bermain dengan mereka itu sudah berbagi. Berbagi berbahagiaan untuk mereka.
            Semenjak kuliah semester dua aku sudah mulai mengajar privat anak-anak sd sehingga aku tahu sedikit karakter mereka , apa yang mereka suka dan inginkan. Aku berharap setelah lulus kuliah, aku bisa untuk menjadi relawan pengajar di pelosok nusantara untuk anak-anak kecil. Bagiku, menjadi guru adalah narkoba. Yang ketika narkoba tersebut dikonsumsi akan merasakan ingin terus mengkonsumsi. Guru adalah candu bagiku. Itu pula alasanku hari ini berada di alon-alon ini dengan anak-anak kecil yang tak berilmu. Bukan berarti mereka tidak memiliki ilmu sedikit pun. Akan tetapi ilmu yang mereka dapatkan dengan pendidikan formal. Tak sekedar berbagi dan berbuka puasa saja, tapi juga mengajar anak-anak jalanan ini. Dengan ilmu yang telah aku dapatkan. Mengajar apa pun, yang aku bisa, dan mereka suka.
            Kembali kepada anak yang berkerudung pink yang tiba-tiba berdiri dan menarik lenganku. “Ayo Mbak, aku punya buku banyak lho.” Katanya dengan berbisik namun penuh semangat. Aku agak kaget mendengar perkataan si kecil mungil berkerudung pink itu. Perhatian mereka yang sedang asyik menyantap makanan menjadi tertuju kepada kami. Tetapi ia tidak memperdulikan mereka. Tarikan pada pergelangan tanganku semakin kuat. Aku mengalah dan ikut berdiri. Lalu ia berjalan dan menarikku menjauhi kerumunan yang ada di alon-alon menuju tempat kecil yang terbuat dari kardus yang mulai lusuh. “apakah ini tempat tinggalmu, Nak?” kata Putri. Ia ini adalah tempat tinggalku. Setiap hari ketika aku lelah mencari uang untuk perutku, aku istirahat disini. Tanpa terkendali air mata terus mengalir dengar deras tanpa henti. Hati tak tega melihat anak sekecil dia harus tinggal dirumah kardus sendiri tanpa ada yang menemani dan dia menggunakan kentrung untuk mengamen untuk mendapatkan uang yang digunakan makan dia setiap harinya.
            “Nama kamu siapa tadi? Mbak lupa.” Tanyaku yang memang tak mampu mengingat puluhan nama anak-anak yang berkumpul di alon-alon dalam satu moment tadi. “Laili Mbak,” jawab si gadis kecil mungil itu. Laili lalu menuntunku perlahan-lahan mendekati pintu. Pintu yang terbuat dari kardus yang berwarna biru yang sedikit terbuka. Ia masuk terlebih dahulu ke rumah kardus kecil itu. Kemudian ia menggilku “Mbak.. sini mbak masuk. Ini buku-bukuku mbak. Sini..”. dengan berusaha menghilangkan rasa kebingunganku dan kesedihanku. Aku bergegas mendekati Laili.
            Tumpukan kardus-kardus yang tinggi sebagai kasurnya. Kain bekas yang sudah lusuh dan kotor sebagai selimutnya. Tidak ada bantal dan guling. Tidak ada ventilasi, sehingga jangan Tanya bagaimana wanginya rumah itu. Yang menurut saya itu bukan rumah yang cocok untuk sebagai tempat tinggal. Wangi yang cukup membuat mual.
            Aku menghiraukan bau ruangan dan ruangan yang penuh dengan kardus-kardus itu. Mataku tertuju kepada Laili yang sedang membawa beberapa buku. Ternyata sesempit rumah kardus itu ada jutaan buku yang tertata disana. Di samping kasur yang terbuat dari kardus itu tempatnya. Aku heran mengapa dia bisa mendapatkan buku-buku itu. Aku coba bertanya kepada dengan nada yang pelan-pelan dan supaya dia tidak tersinggung. “Laili, kamu dapat buku ini dari mana?” kataku sambil menatap Laili. “Aku mendapatkannya dari tempat sampah Mbak.” Jawab Laili. Dan sebagai uang untuk makanku aku sisihkan untuk membeli buku ditukang loak Mbak. Anak yang tidak punya keluarga dan ia harus mencari uang sendiri dengan me-ngamen saja ia mampu untuk membeli buku meskipun buku loak. Kita yang masih punya kedua orangtua, mampu, ayolah kita membeli buku baik buku fiksi atau non fiksi. Yakinlah meskipun saat itu buku itu tidak berguna untukmu tetapi buku itu akan berguna pada waktunya. Sebenarnya buku itu pasti ada gunanya. Tinggal pembacanya mau mengartikan atau tidak. Buku adalah jendela pengetahuan kita.
            Laili masih mencari-cari buku yang ingin ia tunjukkan kepada Mbak Putri. “Nah ini dia Mbak!” seru Laili riang saat menemukan buku yang ingin ia tunjukkan kepada Mbak Putri. Aku melihat banyak sekali buku-buku mulai dari Kisah Nabi Musa, serial Princess, Ipin Upin, Juz’Amma, Iqro, dan buku cerita-cerita lainnya. Aku terbengong heran ketika melihat itu. Karena aku tidak merespon omongan dari Laili ia menempuk punggungku dan mengatakan “Mbak ini buku yang aku suka!” dengan nada keras. Aku kemudian kaget dan secara spontan aku berkata
 “Wah, bagus buku ini Nak.”
“ Kamu suka buku dongeng?”
“ Iya Mbak, aku suka buku dongeng.”
“ Karena dulu ketika ibuku masih ada aku selalu di dongengin oleh ibu ku.”
“ Lha sekarang ibumu dimana, Nak?”
“ Ibuku? Sekarang dia…… dia sekarang sudah meninggal Mbak.”
“ Ya Allah, maafkan Mbak. Bukan mbak bermanksud untuk mengingatkanmu kepada sosok ibumu, Nak.”
“ Iya tidak apa-apa Mbak. Aku sudah ikhlas dengan kepergian ibuku Mbak.”
Semua orang pasti akan mengalami kematian itu. Termasuk kita semua. Tidak tahu kapan, dimana, dan dalam posisi yang seperti apa. Maut akan datang dengan tiba-tiba. Dan itulah akhir dari hidupmu di dunia yang fana ini. Tetaplah berlomba-lomba untuk mengukir kebaikan di dunia ini. Karena kebaikan itulah yang akan membuatmu tenang di dunia yang keduamu.
            Laili adalah sosok anak kecil yang kuat. Ketika ia harus menghadapi dunia ini dengan sendiri ia mampu itu. Belum tentu anak-anak diusianya itu ketika ditinggal kedua orangtuanya akan mampu menahan semua itu dengan kuat. Tapi Laili adalah anak yang kuat. Aku kagum dengannya.
            Setelah ia menunjukkan buku itu ia menceritakan buku dongeng itu. ia memintaku untuk mengajarinya mendongeng dengan peran. Sungguh anak kecil yang memiliki keinginan yang tinggi. Aku yakin ketika ia dewasa kelak ia akan sukses dengan keinginannya yang begitu dahsyat.
            Kami lupa bawah kami buka puasa baru saja dengan kolak saja dan kita belum solat magrib. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Laili makan dan solat magrib terlebih dahulu. Ketika ia makan ia lahap sekali. Dan dia mengatakan “Alhamdulilah, Mbak, makanannya enak ya. Belum pernah aku makan makanan yang seperti ini.” Air mata pun kembali menetes. Dalam hati berkata makanan itu tidak apa-apa untukku Nak. Aku setiap hari makan yang lebih dari seperti itu saja terasa kurang enak. Sungguh aku kurang bersyukur kepada-MU Ya Allah. Syukuri hidupmu saat ini dan nanti. Jangan selalu mengeluh dan meminta saja tanpa melakukan rasa syukur itu. Kemudian kami solat magrib. Mukenah lusuh yang ia gunakan. Lagi lagi air mata jatuh dari mata indah ini. Tak mampu menahan derita yang anak kecil itu lakukan. Dalam doaku aku meminta semoga anak kecil ini menjadi anak yang sukses ketika ia dewasa kelak. Dan ia mampu membantu teman-temannya yang seperti dia.
            Ketika kami akan berpisah, hatiku tak tega meninggalkannya. Pada akhirnya aku memutuskan untuk membawa dia untuk ikut denganku. Akan aku asuh dia sebagai adikku. Meskipun aku sekarang masih kuliah tetapi insyallah aku mampu untuk menghidupinya. Dan aku berusaha untuk dia bisa sekolah. Aku menawarkannya untuk ikut denganku. Akan tetapi ia tidak mau. Ia tidak mau meninggalakan teman-temannya dan tempat tinggal dia yang menjadi kenangan dengan orang tuanya. aku berikan opsi-opsi yang bisa membuat dia untuk setuju tinggal di tempatku. Tetapi ia tidak mau. Ia kasihan dengan teman-temannya. Ketika ia susah temannya selalu menemaninya. Dan nanti ketika ia ikut ia akan senang sendiri tidak dengan temannya. Dan ia akan kehilangan kenangannya bersama ibunya. Tetapi sungguh teman-temannya baik sekali. Teman-temannya berkata kepada Laili.
“Laili, kamu ikut saja dengan Mbak Putri.”
“ Tidak mau! Aku tidak mau meninggalkan kalian.”
“ Santai Laili, apakah ketika kamu sudah tinggal dengan Mbak Putri kamu tidak mengunjungi kami? Pasti nanti Mbak Putri akan selalu mengajakmu untuk mengunjungi kami. Tempat ini masih terbuka untukmu Laili.”
“ Tetapi…”
“ Sudahlah Laili ikut saja. Meskipun tempat kta berbeda tetapi hati kita masih satu. Kami yakin Mbak Putri akan sering mengajakmu kesini. Iya kan Mbak Putri?”
“Iya, Mbak Putri janji akan mengajak Laili lebih sering kesini.”
            Dan akhirnya Laili ikut dengan Mbak Putri. Akhirnya impian Laili untuk bersekolah terwujud. Ia diikutkan les mendongeng oleh Mbak Putri. Setiap satu minggu sekali ia selalu mengunjungi teman-temannya di alon-alon tempat mereka sering berkumpul. Mereka disana membaca bersama. Dan seperti biasa Mbak Putri selalu membagikan sedikit rezekinya untuk anak-anak jalanan. Sekarang Laili telah menjadi pendongeng yang luar biasa. Ia sering diundang untuk mengisi acara di salah satu stasion televisi swasta. Dan gajinya itu dibuat dia untuk membuat rumah untuk teman-teman pengamennya dan perpustakaan untuk membaca teman-temannya. Dan ia membuat rumah kardus kecil disamping rumah tinggalnya yang sekarang. Teman tidak hilang dan kenangan pun tidak hilang. Usaha dan kerja kerasmulah yang menjadi kunci kesuksesanmu. Jangan pantang menyerah. Gagal sekali dua kali itu hal biasa. Kalau ingin sukses pasti akan mengalami kegagalan.   

Semarang. 25 September 2016


           



Sabtu, 24 Desember 2016

TAK KU SAKSIKAN

TAK KU SAKSIKAN
Karya : Nurlaili Irias Putri

Lebih baik tak ku saksikan
Kau jarah alamku yang kaya
Hutan dan ikan yang bertaburan
Tanpa henti kau jarah alamku

Lebih baik tak ku saksikan
Kebusukan orang-orang tak bertanggungjawab
Kebusukan orang-orang penggerogot alamku
Orang-orang yang picik otak

Lebih baik tak ku saksikan
Orang-orang yang hanya mengejar keuntungan
Orang-orang yang hanya mengejar kebutuhan
Tanpa memperdulilah anak cucunya


Semarang, 02 September 2016


KETENANGAN DALAM HUJAN

KETENANGAN DALAM HUJAN
Karya : Nurlaili Irias Putri

Awan yang gelap pekat
Air yang menetes dari langit
Suara amarah bumi bergejolak
Kegelapan yang menyakitkan

Jalan-jalan yang sepi dan gelap
Membuat ketenangan dalam pikiran
Membuat udara tak berasap
Tenang dan Tenang jiwa ini

Semarang, 02 September 2016









Kamis, 26 November 2015

Legenda Kyai Balun

Legenda Kyai Balun

Nama Kyai Balun adalah sebutan bagi Pangeran Anom, yang juga mempunyai nama Pangeran Panjaringan. Disebutkan, setelah pusaka yang hilang berhasil diketemukan kembali, para pangeran yang menemukannya tidak kembali ke Panolan, melainkan terus bermukim di Desa Trisnan dan di Desa Giyanti. Hal itu dilakukan karen mereka mendengar kabar bahwa sepeninggala saudara-saudaranya untuk mencari pusaka, perbuatan Pangeran Benawa dalam pemerintahnya kurang mendapatkan simpati masyarakat.
Pangeran Giri Kusuma lalu memerintahkan kepada Pangeran Anom untuk memata-matai Panolan dari seberang barat. Untuk itu Pangeran Anom lalu melepas busana ksatrianya, berganti dengan pakaia orang kebanyakan. Busana kstrianya beganti dengan pakaian orang kebanyakan. Busana ksatriannya lalu ditanam di bawah pohon beringin di sebelah timur Desa Giyanti. Tempat dimana pakian Pangeran Anom ditanam kemudian disebut dengan nama Desa Ringin Anom.

Pangeran Anom lalu pergi ke arah sebelah Barat Laut Panolan, bermukim di Gunung Kedinding. Di tempat tersebut beliau lalu bertapa sembari melihat keadaan Kadipaten Panolan. Pada suatu waktu Pangeran Anom ingin pergi ke bagian timur untuk lebih mendekati daerah kekuasaan Pangeran Bewana. Pada saat itu beliau berganti nama Pangeran Panjaringan. Sesampainya kadang-kadang kelihatan, kadang-kadang tidak (cat katon cat ora). Kemudian putri yang ternyata bernama rara Sekar tersebut diperistri. Selanjutnya Pangeran Panjaringan menetap di desa tersebut dan menjadi kyai bernama Kyai Balun. Adapun tempat dimana Rara Sekar diketemukan dinamakan “Belun Sri Katon”. (Khasanah Legenda Blora, an,tt).

SUMBER : Buku Penelusuran dan Pengkajian Cerita Rakyat di Kabupaten Blora. Penerbit Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.

Legenda Aria Penangsang

Legenda Aria Penangsang

Aria Penangang adalah seorang keturunan Raja Demak, cucu Sultan Trenggono, Raja Demak yang berkuasa dari tahun 1521-1546 M. Aria Penangsang putra dari anak tertua Sultan Trenggono, yang oleh karena beliau mati dari anak tertua Sultan Trenggono, yang oleh karena beliau mati terbunuh di sungai maka disebutl Pangeran Seda Lepen. Menurut beberapa sumber, Sultan Trenggono mempunyai 5 orang putra, yaitu :
1.      Pangeran Seda Lepen
2.      Pangeran ratu (Sunan Prawata)
3.      Pengeran Jipang
4.      Ratu Arya Jepara (Ratu Kalinyamat)
5.      Ratu Sedeng Laut
Sultan Trenggono meninggal mendadak pada tahun 1546 M, pada saat melakukan ekspedisi ke Panarukan. Sepeninggalan Sultan Trenggono, di Demak terjadi perebutan kekuasaan hingga jatuh korban di lingkungan keluarga istana. Korban pertama adalah Pangeran eda Lepen, putra tertua Sultan Trenggono, ayah Arya Penangsang, yang dibunuh atas perintah Pangeran Prawata, yaitu putra kedua Sultan Trenggono.
Sepeninggalan Pangeran Seda Lepen, Pangeran Prawata menjadi anak laki-laki tertua Sultan Trenggono sehingga dialah yang berhak naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Demak. Anak Pengeran Seda Lepen, yang bernama Arya Penangsang tidak terima atas kematian ayahnya. Dia menuntut balas atas kematian ayahnya. Lalu di Kalinyamat (jepara) yang dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat.
Arya Penangsang membunuh sunan Prawata untuk balas dendam karena jika Seda Lepen tidak dibunuh, maka  beliaulah yang berhak menggantikan kedudukan Sultan Trenggono, kakeknya, sebagai Raja Demak. Dengan demikian dialah yang kelak berhak mewarisi tahta dinasti Kerajaan Demak, karena dia adalah keturunan laki-laki dari anak laki-laki tertua Sultan Trenggono. Dengan meinggalnya Pangeran Seda Lepen. Pupuslah kesempatan Arya Penangsang untuk mewarisi tahta Kerajaan Demak yang sebenarnya sudah di depan mata. Adapun Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Kalinyamat karena beliau juga merupakan ancaman bagi dirinya untuk meraih haknya atas tahta Kerajaan Demak. Hal itu karena disamping baliau orangnya cakap. Bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat, walaupun seorang perempuan juga sangat cakap. Terbukti sepeninggalan suaminya, (Pangeran Kalinyamat), beliau menjadi pusat keluarga Demak yang sudah tercerai berai. Beliaulah yang mengasuh dan mengurusi seluruh keluarga. Selain itu, walaupun hanya seorang janda, beliau mampu merajai kota pelabuhan Jepara dengan sukses.
      Dengan meninggalanya Sunan Prawata dan Pangeran Kalinyamat, Arya Pennagsang menjadi keturunan laki-laki tertua Sultan Trenggono. Dengan demikian dia berhak kembali atas tahta Kerajaan Demak. Namun sepeninggal Sunan Prawata yang ditunjuk untuk menggantikan tahta Kerajaan demak adalah Pangeran Kediri Pengeran Pangiri, anak laki-laki Pengeran Seda Lepen, yang berarti saudara Arya Penangsang. Akan tetapi kedudukan Pangeran Kediri atau Pangeran Pangiri sebagai Raja Demak hanya semacam kedudukan simbolis karena dalam mengatur jalannya pemerintahan masih di bawah perlindungan Sultan Pajang, pamannya.
Menurut ceita tutur Jawa, Arya Penangsang menjadi adipati, yag menguasai wilayah Jipang Panolan. Arya Penangsang juga disebut dengan nama Arya Jipang. Sebagaimana diketahui, Jipang dan Panolan adalah dua nama tempat yang berbeda, yang kini berada di wilayah Kabupaten Blora. Dengan begitu dapat diartikan bahwa Arya Penangsang adalah penguasa di dua wilayah tersebut sekaligus.
Sebagaimana disebutkan di depan, disamping Pangeran Seda Lepen yang merupakan ayah dari Arya Penangsang, Sultan Trenggono juga mempunyai putra yang bernama Pangeran Jipang. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa Arya Penangsang disamping mewarisi wilayah kekuasa ayahnya, yaitu Pangeran Seda Lepen, yang mengkin bernama Panolan, dia juga mewarisi wilayah kekuasaan Pamannya, yaitu wilayah Jipang dan wilayah Panolan, sehingga dikenal dengan sebutan Adipati Jipang Panolan, yang merupakan wilayah bawahan Kerajaan Demak.
Arya Penangsang akhirnya dikalahkan oleh Jaka Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang menjadi adipati di Pajang, atas permintaan Ratu Kalinyamat yang merasa sakit hati karena dia permintaan Ratu Kalinyamat yang merasa sakit hati karena dia telah membunuh suaminya. Disebutkan Ratu kalinyamat bersumpah atas nama suaminya, bahwa selama pembunuh suaminya masih berada di muka bumi, beliau tidak akan mengenakan buasana, melainkan hanya menutupi tubuhnya dengan rambutnya yang panjang tergerai. Keberhasilan Jaka Ageng Pemanahan dan Sutawijaya diberi hadiah “hutan Mentaok”, yang kelak menjadi kerajaan besar bernama Mataram di bawah pimpinan Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.
Dengan kemenangannya atas Arya Penangsang, telah mengangkat penguasa Pajang (Jaka Tingkir) langsung ke jenjang kekuasaan tertinggi di Jawa tengah. Ia lalu mengubah tempat kediamannnya di Pajang menjadi ibukota kerajaan, dan mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Sultan Hadiwijoyo. Adapun ibukota lama, Demak, kemudian menjadi ibukota daerah, yang berada di bawah kekuasaan Raja Pajang. Sepeninggalan Arya Penangsang, wilayah Jipang Panolan diamil alih oleh Sultan Hadiwijaya, kemudian diserahkan kepada putranya yang bernama Pangeran Benawa.
Pada saat Mataram tumbuh menjadi sebuah kerajaan yang semakin besar, Sultan Pajang mengkhawatirkan apabila kebesaran Mataram akan mengancam keberadaan Kerajaan Pajang. Oleh karena itu Raja Pajang lalu berusaha memperingatkan Raja Mataram, yaitu Paembahan Senopati atau Sutawijaya yang sudah diangkatnya sebagai anak. Akan tetaapi Panembahan Senopati tidak menghiraukannya, hingga akhirnya pecah perang terbuka antara Kerajaan Pajang dan Mataram.

Pasukan Pajang tidak berhasil mengalahkan bala pasukan Mataram,karena pasukan Mataram dibantu oleh pasukan makhluk halus, anak buah ratu jin penguasa laut selatan. Atas kekalahnya dalam melawan pasukan Mataram membuat hati Sultan Hadi Wijaya merasa sedih dan jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Sepeninggalan Sultan hadi Wijaya Kerajaan Pajang beserta seluruh wilayah bawahannya jatuh di bawah kekuasaan mataram, termasuk wilayah Kadipaten Jipang Panolan (Graf dan Pegeaud, 1985).

SUMBER : Buku Penelusuran dan Pengkajian Cerita Rakyat di Kabupaten Blora. Penerbit Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.


Asal Usul Nama Blora

ASAL USUL NAMA BLORA 

Asal usul nama Blora dan artinya sampai sekarang belum jelas. Menurut cerita rakyat, kata”Blora” berasal dari kata “belor” yang artinya “lumpur” atau “tanah becek”. Selanjutnya kata “belor” berkembang menjadi “beloran” atau mbeloran” yang juga berarti “tanah lumpur”. Dalam perkembangan elanjutnya, kata “beloran” atau “mbeloran” diucapkan dengan kata “bloran” atau “mbolaran”. Kata tersebut biasanya dipergunakan untuk menyebutkan nama suatu tempat yang mempunyai spefisikasi atau ciri-ciri seperti tersebut. Akan tetapi sampai saat ini tidak ada desa di Kabupaten Blora yang namanya menunjukan ke arah pengertian tersebut (Riyanto,dkk,1987:4)
Cerita lain menyebutkan bahwa nama “Blora” berasal dari kata “belo lara” (anak kuda sakit), yaitu seekor anak kuda tunggang yag dihadiahkan oleh Asisten Residen Rembang kepada senapati Ngadi yang telah berhasil memandamkan pemberontakan Naya Gimbal / Naya Sentika sehingga dia diangkat menjadi bupati di Karangjati yang semula hanya berupa Kawedanan. Adapun ceritanya adalah sebagai berikut.
CERITA RAKYAT DI KABUPATEN BLORA
Tersebutlah di Kadipaten Begir ada pemberontakan yang dipimpin oleh sisa-sisa laskar prajurit Diponegaraan yang bernama Naya Sentika, yang oleh karena rambutnya panjang dan tidak terurus (gimbal), maka dia kemudian dikenal dengan sebutan “Naya Gimbal”. Sebagai cucu prajurit pribumi, sebagaimana halnya para leluhurnya dalam jiwa Naya Gimbal sudah tertanamrasa nasionalisme yang tinggi. Dia sangat anti penjajah beserta antek-anteknya, termasuk para bupati atau wedana yang membantu Belanda.
Naya Gimbal berserta para prajuritnya menyerang Kadipaten Bangir yang termasuk dalam afdeling Asisten Resident Rembang, Resident Jepara Rembang. Sebagai pembantu pemerintah Bengir, adalah tumenggung (wedana) Karangjati bernama “Ngadi”, yang merupakan adik kandung Bupati Bengir. Wedana Ngadi orangnya lumpuh, akan tetapi sangat sakit.
Atas terserangnya prajurit Naya Gimbal, Kadipaten Bengir merasa kewalahan, bahkan senapati perang Kadipaten Bengir yang bernama Begede Jetis gugur dalam pertempuran tersebut. Pertempura yang menewaskan senapati Begede Jetis tersebut terjadi di sawah Balung Gembung, sebelah selatan Mlangsen. Oleh para pengikutnya, jenazah Begede Jetis dimakamkan di Desa Jetis.
Untuk memadamkan pemberontakan tersebut, akhirnya Bupati Bengir mendapatkan petunjuk gaib (wangsit), nbahwa yang dapat mengalahkan Naya Gimbal adalah adiknya sendiri yang bernama Ngadi. Oleh karena itu, Bupati Bengir lalu memberitahukan hal tersebut kepada adiknya. Ngadi pun lalu maju perang dengan cara ditandu.
Wedana Ngadi mempunyai pusaka ampuh berupa tombak dapur “Godong Andong”. Dengan pengaruh kewibawaan pusakanya tersebut akhirnya dia berhasil menghalau dan mengalahkan prajurit Naya Gimbal. Wedana ngadi mendapat petunjuk gaib (wangsit) untuk menguburkan jenazah senapati sebelumnya, yaitu Begede Jatis di sebelah utara Jetis, ditempat yang tanhnya tinggi (pojok). Oleh karena makamnya berada di tanah yang tinggi (pojok), akhirnya Begede Jetis juga mendapat sebutan “Suman Pojok”
Adapun Wedana Ngadi, oleh karena telah berjasa berhasil memadamkan pemberontakan Naya Gimbal, ats ijin Asisten Residen Rembang dia mendaptkan hadiah separoh wilayah Kadipaten Bengir sgar semangka (dibagi dua sama rata), bagian selatan, dan sekaligus dia diangkat menjadi Bupati. Pada saat pelantikannya sebagai bupati, Ngadi ingin memberikan nama kabupatennya, namun belum juga mendapat ide. Pada waktu pelantikan tersebut, dari Asisten Residen Rembang dia mendapatkan hadiah berupa seekor kuda tanggang (kuda teji) yang masih muda (belo) tersebut jatuh sakit (lara). Oleh karena itu, ngadi lal memberi nama wilayah kabupatennya dengan nama “Blora”, yang merupakan kependekan dari kata “belo lara”.

Pemerintahan Bupati Ngadi sangat baik. Rakyat merasa senang dan tentram. Singkat cerita, Bupati Ngadi akhirnya meninggal dunia dalam usia lanjut. Sebelum mangkat beliau berpesan berbatasan dengan kabupaten Bengir. Masyarakat Blora menyebut makam Bupati Ngadi dengan sebutan “Ngadi Purwa”, berasal dari kata “purwa” yang berarti pemula. Sebutan tersebut berdirinya Kabupaten Blora. (Khasanah Legenda Blora,an,tt:th)

SUMBER : Buku Penelusuran dan Pengkajian Cerita Rakyat di Kabupaten Blora. Penerbit Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.