Selasa, 02 Januari 2018

Kentrung dan Rumah Kardus

KENTRUNG DAN RUMAH KARDUS

Oleh Nurlaili Irias Putri

M
bak kapan ke sini lagi? Sapa seorang anak perempuan berkerudung pink yang duduk tepat di depanku. Tangan mungilnya selalu melambai-lambai kepadaku.  Aku mendekatinya dan menatapnya seraya menaikkan alisku yang tebal ini. “Mbak kapan kesini lagii?” gadis kecil itu mengulangi pertanyaannya kembali, kali ini dengan nada yang lirih dan penuh rasa manja. Aku menghabiskan satu sendok terakhir es kolak yang ada di tanganku lalu meletakkannya di atas bangku tempat kami duduk. Lalu aku berkata kepada si gadis kecil “Mmm, kapan ya? Kamu maunya kapan? Emangnya kamu mau Mbak ke sini lagi?”
            Si gadis kecil itu yang memakai pakaian serba pink itu menggeser duduknya sehingga lebih dekat denganku. Ia pun mulai berkata dalam satu tarika napas, “ Iya Mbak, aku pengen mbak kesini lagi. Ngedongengin lagi kayak tadi, atau baca cerita dan ajarin aku belajar lainnya”. Iya sore ini memang kami berdua sedang asyik bermain berdua di alon-alon kota ini. Kota kembang yang penuh dengan bunga dan kenyamana. Ketika menghirup udara, udara yang segar dan bersih yang masuk dalam tubuh kami. Beberapa menit lagi kami akan berbuka puasa. Ya, kami. Aku dan teman-teman kuliahku bersama dengan anak-anak jalanan di sekitar alon-alon Bandung ini melakukan buka bersama. Ramadan tahun ini saya dan rekan kuliah saya ingin memberikan sedikit rezeki yang kami sisihkan dari uang jajan kami kepada anak-anak jalanan yang kekurangan makanan dan kami mendongeng untuk anak-anak jalanan itu. Kami ingin menghidup anak jalanan itu dengan cara yang kami bisa. Kami dari jurusan bahasa dan sastra Indonesia yang salah satu kami bisa adalah mendongeng. Sebenarnya itu adalah acara rombel untuk melakukan buka bersama akan tetapi bukan bersama dengan teman kuliah sama dengan hari-hari biasa ketika tidak Ramadan. Hanya makan dan berbagi cerita untuk sendiri. Tetapi tahun ini kami ingin berbagi kepada mereka. Anak-anak jalanan.
            Aku sendiri baru saja mendongengkan Maling Kundang sambil berperan sebagai ibunya Malin di depan anak-anak usia SD dan SMP ini. Setelahnya seperti biasa, aku mengajak mereka dan rekan-rekan kuliahku untuk bermain games bersama. Mulai dari games ular naga yang menyebutkan kembali nama-nama yang sudah diperkenalkan, dan games peta umpet. Senang ketika bisa menghibur mereka ketika bulan yang penuh berkah seperti ini. Senyum-senyum merekah, suara-suara mencuat dengan keras, dan meskipun bercucuran keringan dari tubuh tapi itu semua terbanyar dengan senyum mereka. Sesama manusia didunia marilah berbagai meskipun itu hanya dengan melakukan bermain dengan mereka itu sudah berbagi. Berbagi berbahagiaan untuk mereka.
            Semenjak kuliah semester dua aku sudah mulai mengajar privat anak-anak sd sehingga aku tahu sedikit karakter mereka , apa yang mereka suka dan inginkan. Aku berharap setelah lulus kuliah, aku bisa untuk menjadi relawan pengajar di pelosok nusantara untuk anak-anak kecil. Bagiku, menjadi guru adalah narkoba. Yang ketika narkoba tersebut dikonsumsi akan merasakan ingin terus mengkonsumsi. Guru adalah candu bagiku. Itu pula alasanku hari ini berada di alon-alon ini dengan anak-anak kecil yang tak berilmu. Bukan berarti mereka tidak memiliki ilmu sedikit pun. Akan tetapi ilmu yang mereka dapatkan dengan pendidikan formal. Tak sekedar berbagi dan berbuka puasa saja, tapi juga mengajar anak-anak jalanan ini. Dengan ilmu yang telah aku dapatkan. Mengajar apa pun, yang aku bisa, dan mereka suka.
            Kembali kepada anak yang berkerudung pink yang tiba-tiba berdiri dan menarik lenganku. “Ayo Mbak, aku punya buku banyak lho.” Katanya dengan berbisik namun penuh semangat. Aku agak kaget mendengar perkataan si kecil mungil berkerudung pink itu. Perhatian mereka yang sedang asyik menyantap makanan menjadi tertuju kepada kami. Tetapi ia tidak memperdulikan mereka. Tarikan pada pergelangan tanganku semakin kuat. Aku mengalah dan ikut berdiri. Lalu ia berjalan dan menarikku menjauhi kerumunan yang ada di alon-alon menuju tempat kecil yang terbuat dari kardus yang mulai lusuh. “apakah ini tempat tinggalmu, Nak?” kata Putri. Ia ini adalah tempat tinggalku. Setiap hari ketika aku lelah mencari uang untuk perutku, aku istirahat disini. Tanpa terkendali air mata terus mengalir dengar deras tanpa henti. Hati tak tega melihat anak sekecil dia harus tinggal dirumah kardus sendiri tanpa ada yang menemani dan dia menggunakan kentrung untuk mengamen untuk mendapatkan uang yang digunakan makan dia setiap harinya.
            “Nama kamu siapa tadi? Mbak lupa.” Tanyaku yang memang tak mampu mengingat puluhan nama anak-anak yang berkumpul di alon-alon dalam satu moment tadi. “Laili Mbak,” jawab si gadis kecil mungil itu. Laili lalu menuntunku perlahan-lahan mendekati pintu. Pintu yang terbuat dari kardus yang berwarna biru yang sedikit terbuka. Ia masuk terlebih dahulu ke rumah kardus kecil itu. Kemudian ia menggilku “Mbak.. sini mbak masuk. Ini buku-bukuku mbak. Sini..”. dengan berusaha menghilangkan rasa kebingunganku dan kesedihanku. Aku bergegas mendekati Laili.
            Tumpukan kardus-kardus yang tinggi sebagai kasurnya. Kain bekas yang sudah lusuh dan kotor sebagai selimutnya. Tidak ada bantal dan guling. Tidak ada ventilasi, sehingga jangan Tanya bagaimana wanginya rumah itu. Yang menurut saya itu bukan rumah yang cocok untuk sebagai tempat tinggal. Wangi yang cukup membuat mual.
            Aku menghiraukan bau ruangan dan ruangan yang penuh dengan kardus-kardus itu. Mataku tertuju kepada Laili yang sedang membawa beberapa buku. Ternyata sesempit rumah kardus itu ada jutaan buku yang tertata disana. Di samping kasur yang terbuat dari kardus itu tempatnya. Aku heran mengapa dia bisa mendapatkan buku-buku itu. Aku coba bertanya kepada dengan nada yang pelan-pelan dan supaya dia tidak tersinggung. “Laili, kamu dapat buku ini dari mana?” kataku sambil menatap Laili. “Aku mendapatkannya dari tempat sampah Mbak.” Jawab Laili. Dan sebagai uang untuk makanku aku sisihkan untuk membeli buku ditukang loak Mbak. Anak yang tidak punya keluarga dan ia harus mencari uang sendiri dengan me-ngamen saja ia mampu untuk membeli buku meskipun buku loak. Kita yang masih punya kedua orangtua, mampu, ayolah kita membeli buku baik buku fiksi atau non fiksi. Yakinlah meskipun saat itu buku itu tidak berguna untukmu tetapi buku itu akan berguna pada waktunya. Sebenarnya buku itu pasti ada gunanya. Tinggal pembacanya mau mengartikan atau tidak. Buku adalah jendela pengetahuan kita.
            Laili masih mencari-cari buku yang ingin ia tunjukkan kepada Mbak Putri. “Nah ini dia Mbak!” seru Laili riang saat menemukan buku yang ingin ia tunjukkan kepada Mbak Putri. Aku melihat banyak sekali buku-buku mulai dari Kisah Nabi Musa, serial Princess, Ipin Upin, Juz’Amma, Iqro, dan buku cerita-cerita lainnya. Aku terbengong heran ketika melihat itu. Karena aku tidak merespon omongan dari Laili ia menempuk punggungku dan mengatakan “Mbak ini buku yang aku suka!” dengan nada keras. Aku kemudian kaget dan secara spontan aku berkata
 “Wah, bagus buku ini Nak.”
“ Kamu suka buku dongeng?”
“ Iya Mbak, aku suka buku dongeng.”
“ Karena dulu ketika ibuku masih ada aku selalu di dongengin oleh ibu ku.”
“ Lha sekarang ibumu dimana, Nak?”
“ Ibuku? Sekarang dia…… dia sekarang sudah meninggal Mbak.”
“ Ya Allah, maafkan Mbak. Bukan mbak bermanksud untuk mengingatkanmu kepada sosok ibumu, Nak.”
“ Iya tidak apa-apa Mbak. Aku sudah ikhlas dengan kepergian ibuku Mbak.”
Semua orang pasti akan mengalami kematian itu. Termasuk kita semua. Tidak tahu kapan, dimana, dan dalam posisi yang seperti apa. Maut akan datang dengan tiba-tiba. Dan itulah akhir dari hidupmu di dunia yang fana ini. Tetaplah berlomba-lomba untuk mengukir kebaikan di dunia ini. Karena kebaikan itulah yang akan membuatmu tenang di dunia yang keduamu.
            Laili adalah sosok anak kecil yang kuat. Ketika ia harus menghadapi dunia ini dengan sendiri ia mampu itu. Belum tentu anak-anak diusianya itu ketika ditinggal kedua orangtuanya akan mampu menahan semua itu dengan kuat. Tapi Laili adalah anak yang kuat. Aku kagum dengannya.
            Setelah ia menunjukkan buku itu ia menceritakan buku dongeng itu. ia memintaku untuk mengajarinya mendongeng dengan peran. Sungguh anak kecil yang memiliki keinginan yang tinggi. Aku yakin ketika ia dewasa kelak ia akan sukses dengan keinginannya yang begitu dahsyat.
            Kami lupa bawah kami buka puasa baru saja dengan kolak saja dan kita belum solat magrib. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Laili makan dan solat magrib terlebih dahulu. Ketika ia makan ia lahap sekali. Dan dia mengatakan “Alhamdulilah, Mbak, makanannya enak ya. Belum pernah aku makan makanan yang seperti ini.” Air mata pun kembali menetes. Dalam hati berkata makanan itu tidak apa-apa untukku Nak. Aku setiap hari makan yang lebih dari seperti itu saja terasa kurang enak. Sungguh aku kurang bersyukur kepada-MU Ya Allah. Syukuri hidupmu saat ini dan nanti. Jangan selalu mengeluh dan meminta saja tanpa melakukan rasa syukur itu. Kemudian kami solat magrib. Mukenah lusuh yang ia gunakan. Lagi lagi air mata jatuh dari mata indah ini. Tak mampu menahan derita yang anak kecil itu lakukan. Dalam doaku aku meminta semoga anak kecil ini menjadi anak yang sukses ketika ia dewasa kelak. Dan ia mampu membantu teman-temannya yang seperti dia.
            Ketika kami akan berpisah, hatiku tak tega meninggalkannya. Pada akhirnya aku memutuskan untuk membawa dia untuk ikut denganku. Akan aku asuh dia sebagai adikku. Meskipun aku sekarang masih kuliah tetapi insyallah aku mampu untuk menghidupinya. Dan aku berusaha untuk dia bisa sekolah. Aku menawarkannya untuk ikut denganku. Akan tetapi ia tidak mau. Ia tidak mau meninggalakan teman-temannya dan tempat tinggal dia yang menjadi kenangan dengan orang tuanya. aku berikan opsi-opsi yang bisa membuat dia untuk setuju tinggal di tempatku. Tetapi ia tidak mau. Ia kasihan dengan teman-temannya. Ketika ia susah temannya selalu menemaninya. Dan nanti ketika ia ikut ia akan senang sendiri tidak dengan temannya. Dan ia akan kehilangan kenangannya bersama ibunya. Tetapi sungguh teman-temannya baik sekali. Teman-temannya berkata kepada Laili.
“Laili, kamu ikut saja dengan Mbak Putri.”
“ Tidak mau! Aku tidak mau meninggalkan kalian.”
“ Santai Laili, apakah ketika kamu sudah tinggal dengan Mbak Putri kamu tidak mengunjungi kami? Pasti nanti Mbak Putri akan selalu mengajakmu untuk mengunjungi kami. Tempat ini masih terbuka untukmu Laili.”
“ Tetapi…”
“ Sudahlah Laili ikut saja. Meskipun tempat kta berbeda tetapi hati kita masih satu. Kami yakin Mbak Putri akan sering mengajakmu kesini. Iya kan Mbak Putri?”
“Iya, Mbak Putri janji akan mengajak Laili lebih sering kesini.”
            Dan akhirnya Laili ikut dengan Mbak Putri. Akhirnya impian Laili untuk bersekolah terwujud. Ia diikutkan les mendongeng oleh Mbak Putri. Setiap satu minggu sekali ia selalu mengunjungi teman-temannya di alon-alon tempat mereka sering berkumpul. Mereka disana membaca bersama. Dan seperti biasa Mbak Putri selalu membagikan sedikit rezekinya untuk anak-anak jalanan. Sekarang Laili telah menjadi pendongeng yang luar biasa. Ia sering diundang untuk mengisi acara di salah satu stasion televisi swasta. Dan gajinya itu dibuat dia untuk membuat rumah untuk teman-teman pengamennya dan perpustakaan untuk membaca teman-temannya. Dan ia membuat rumah kardus kecil disamping rumah tinggalnya yang sekarang. Teman tidak hilang dan kenangan pun tidak hilang. Usaha dan kerja kerasmulah yang menjadi kunci kesuksesanmu. Jangan pantang menyerah. Gagal sekali dua kali itu hal biasa. Kalau ingin sukses pasti akan mengalami kegagalan.   

Semarang. 25 September 2016