KENTRUNG DAN RUMAH
KARDUS
Oleh Nurlaili
Irias Putri
M
|
bak
kapan ke sini lagi? Sapa seorang anak perempuan berkerudung pink yang duduk
tepat di depanku. Tangan mungilnya selalu melambai-lambai kepadaku. Aku mendekatinya dan menatapnya seraya
menaikkan alisku yang tebal ini. “Mbak kapan kesini lagii?” gadis kecil itu
mengulangi pertanyaannya kembali, kali ini dengan nada yang lirih dan penuh
rasa manja. Aku menghabiskan satu sendok terakhir es kolak yang ada di tanganku
lalu meletakkannya di atas bangku tempat kami duduk. Lalu aku berkata kepada si
gadis kecil “Mmm, kapan ya? Kamu maunya kapan? Emangnya kamu mau Mbak ke sini
lagi?”
Si gadis kecil itu yang memakai
pakaian serba pink itu menggeser duduknya sehingga lebih dekat denganku. Ia pun
mulai berkata dalam satu tarika napas, “ Iya Mbak, aku pengen mbak kesini lagi. Ngedongengin
lagi kayak tadi, atau baca cerita dan ajarin aku belajar lainnya”. Iya sore ini
memang kami berdua sedang asyik
bermain berdua di alon-alon kota ini. Kota kembang yang penuh dengan bunga dan
kenyamana. Ketika menghirup udara, udara yang segar dan bersih yang masuk dalam
tubuh kami. Beberapa menit lagi kami akan berbuka puasa. Ya, kami. Aku dan
teman-teman kuliahku bersama dengan anak-anak jalanan di sekitar alon-alon
Bandung ini melakukan buka bersama. Ramadan tahun ini saya dan rekan kuliah
saya ingin memberikan sedikit rezeki yang kami sisihkan dari uang jajan kami
kepada anak-anak jalanan yang kekurangan makanan dan kami mendongeng untuk
anak-anak jalanan itu. Kami ingin menghidup anak jalanan itu dengan cara yang
kami bisa. Kami dari jurusan bahasa dan sastra Indonesia yang salah satu kami
bisa adalah mendongeng. Sebenarnya itu adalah acara rombel untuk melakukan buka bersama akan tetapi bukan bersama
dengan teman kuliah sama dengan hari-hari biasa ketika tidak Ramadan. Hanya
makan dan berbagi cerita untuk sendiri. Tetapi tahun ini kami ingin berbagi
kepada mereka. Anak-anak jalanan.
Aku sendiri baru saja mendongengkan Maling Kundang sambil berperan sebagai
ibunya Malin di depan anak-anak usia SD dan SMP ini. Setelahnya seperti biasa,
aku mengajak mereka dan rekan-rekan kuliahku untuk bermain games bersama. Mulai dari games
ular naga yang menyebutkan kembali nama-nama yang sudah diperkenalkan, dan games peta umpet. Senang ketika bisa
menghibur mereka ketika bulan yang penuh berkah seperti ini. Senyum-senyum
merekah, suara-suara mencuat dengan keras, dan meskipun bercucuran keringan
dari tubuh tapi itu semua terbanyar dengan senyum mereka. Sesama manusia
didunia marilah berbagai meskipun itu hanya dengan melakukan bermain dengan
mereka itu sudah berbagi. Berbagi berbahagiaan untuk mereka.
Semenjak kuliah semester dua aku
sudah mulai mengajar privat anak-anak sd sehingga aku tahu sedikit karakter
mereka , apa yang mereka suka dan inginkan. Aku berharap setelah lulus kuliah,
aku bisa untuk menjadi relawan pengajar di pelosok nusantara untuk anak-anak
kecil. Bagiku, menjadi guru adalah narkoba. Yang ketika narkoba tersebut
dikonsumsi akan merasakan ingin terus mengkonsumsi. Guru adalah candu bagiku.
Itu pula alasanku hari ini berada di alon-alon ini dengan anak-anak kecil yang
tak berilmu. Bukan berarti mereka tidak memiliki ilmu sedikit pun. Akan tetapi
ilmu yang mereka dapatkan dengan pendidikan formal. Tak sekedar berbagi dan berbuka
puasa saja, tapi juga mengajar anak-anak jalanan ini. Dengan ilmu yang telah
aku dapatkan. Mengajar apa pun, yang aku bisa, dan mereka suka.
Kembali kepada anak yang berkerudung
pink yang tiba-tiba berdiri dan menarik lenganku. “Ayo Mbak, aku punya buku
banyak lho.” Katanya dengan berbisik
namun penuh semangat. Aku agak kaget mendengar perkataan si kecil mungil
berkerudung pink itu. Perhatian mereka yang sedang asyik menyantap makanan menjadi tertuju kepada kami. Tetapi ia
tidak memperdulikan mereka. Tarikan pada pergelangan tanganku semakin kuat. Aku
mengalah dan ikut berdiri. Lalu ia berjalan dan menarikku menjauhi kerumunan yang
ada di alon-alon menuju tempat kecil yang terbuat dari kardus yang mulai lusuh.
“apakah ini tempat tinggalmu, Nak?” kata Putri. Ia ini adalah tempat tinggalku.
Setiap hari ketika aku lelah mencari uang untuk perutku, aku istirahat disini. Tanpa
terkendali air mata terus mengalir dengar deras tanpa henti. Hati tak tega
melihat anak sekecil dia harus tinggal dirumah kardus sendiri tanpa ada yang
menemani dan dia menggunakan kentrung
untuk mengamen untuk mendapatkan uang yang digunakan makan dia setiap harinya.
“Nama kamu siapa tadi? Mbak lupa.”
Tanyaku yang memang tak mampu mengingat puluhan nama anak-anak yang berkumpul
di alon-alon dalam satu moment tadi.
“Laili Mbak,” jawab si gadis kecil mungil itu. Laili lalu menuntunku
perlahan-lahan mendekati pintu. Pintu yang terbuat dari kardus yang berwarna biru
yang sedikit terbuka. Ia masuk terlebih dahulu ke rumah kardus kecil itu.
Kemudian ia menggilku “Mbak.. sini mbak masuk. Ini buku-bukuku mbak. Sini..”.
dengan berusaha menghilangkan rasa kebingunganku dan kesedihanku. Aku bergegas
mendekati Laili.
Tumpukan kardus-kardus yang tinggi
sebagai kasurnya. Kain bekas yang sudah lusuh dan kotor sebagai selimutnya.
Tidak ada bantal dan guling. Tidak ada ventilasi, sehingga jangan Tanya
bagaimana wanginya rumah itu. Yang menurut saya itu bukan rumah yang cocok untuk
sebagai tempat tinggal. Wangi yang cukup membuat mual.
Aku menghiraukan bau ruangan dan
ruangan yang penuh dengan kardus-kardus itu. Mataku tertuju kepada Laili yang
sedang membawa beberapa buku. Ternyata sesempit rumah kardus itu ada jutaan
buku yang tertata disana. Di samping kasur yang terbuat dari kardus itu
tempatnya. Aku heran mengapa dia bisa mendapatkan buku-buku itu. Aku coba
bertanya kepada dengan nada yang pelan-pelan dan supaya dia tidak tersinggung.
“Laili, kamu dapat buku ini dari mana?” kataku sambil menatap Laili. “Aku
mendapatkannya dari tempat sampah Mbak.” Jawab Laili. Dan sebagai uang untuk
makanku aku sisihkan untuk membeli buku ditukang loak Mbak. Anak yang tidak punya keluarga dan ia harus mencari uang
sendiri dengan me-ngamen saja ia
mampu untuk membeli buku meskipun buku loak. Kita yang masih punya kedua
orangtua, mampu, ayolah kita membeli buku baik buku fiksi atau non fiksi.
Yakinlah meskipun saat itu buku itu tidak berguna untukmu tetapi buku itu akan
berguna pada waktunya. Sebenarnya buku itu pasti ada gunanya. Tinggal
pembacanya mau mengartikan atau tidak. Buku adalah jendela pengetahuan kita.
Laili masih mencari-cari buku yang
ingin ia tunjukkan kepada Mbak Putri. “Nah ini dia Mbak!” seru Laili riang saat
menemukan buku yang ingin ia tunjukkan kepada Mbak Putri. Aku melihat banyak
sekali buku-buku mulai dari Kisah Nabi Musa, serial Princess, Ipin Upin,
Juz’Amma, Iqro, dan buku cerita-cerita lainnya. Aku terbengong heran ketika
melihat itu. Karena aku tidak merespon omongan
dari Laili ia menempuk punggungku dan mengatakan “Mbak ini buku yang aku suka!”
dengan nada keras. Aku kemudian kaget dan secara spontan aku berkata
“Wah, bagus buku ini Nak.”
“
Kamu suka buku dongeng?”
“
Iya Mbak, aku suka buku dongeng.”
“
Karena dulu ketika ibuku masih ada aku selalu di dongengin oleh ibu ku.”
“
Lha sekarang ibumu dimana, Nak?”
“
Ibuku? Sekarang dia…… dia sekarang sudah meninggal Mbak.”
“
Ya Allah, maafkan Mbak. Bukan mbak bermanksud untuk mengingatkanmu kepada sosok
ibumu, Nak.”
“
Iya tidak apa-apa Mbak. Aku sudah ikhlas dengan kepergian ibuku Mbak.”
Semua
orang pasti akan mengalami kematian itu. Termasuk kita semua. Tidak tahu kapan,
dimana, dan dalam posisi yang seperti apa. Maut akan datang dengan tiba-tiba.
Dan itulah akhir dari hidupmu di dunia yang fana ini. Tetaplah berlomba-lomba
untuk mengukir kebaikan di dunia ini. Karena kebaikan itulah yang akan
membuatmu tenang di dunia yang keduamu.
Laili adalah sosok anak kecil yang
kuat. Ketika ia harus menghadapi dunia ini dengan sendiri ia mampu itu. Belum
tentu anak-anak diusianya itu ketika ditinggal kedua orangtuanya akan mampu
menahan semua itu dengan kuat. Tapi Laili adalah anak yang kuat. Aku kagum
dengannya.
Setelah ia menunjukkan buku itu ia
menceritakan buku dongeng itu. ia memintaku untuk mengajarinya mendongeng
dengan peran. Sungguh anak kecil yang memiliki keinginan yang tinggi. Aku yakin
ketika ia dewasa kelak ia akan sukses dengan keinginannya yang begitu dahsyat.
Kami lupa bawah kami buka puasa baru
saja dengan kolak saja dan kita belum solat magrib. Akhirnya aku memutuskan
untuk mengajak Laili makan dan solat magrib terlebih dahulu. Ketika ia makan ia
lahap sekali. Dan dia mengatakan “Alhamdulilah, Mbak, makanannya enak ya. Belum
pernah aku makan makanan yang seperti ini.” Air mata pun kembali menetes. Dalam
hati berkata makanan itu tidak apa-apa untukku Nak. Aku setiap hari makan yang
lebih dari seperti itu saja terasa kurang enak. Sungguh aku kurang bersyukur
kepada-MU Ya Allah. Syukuri hidupmu saat ini dan nanti. Jangan selalu mengeluh
dan meminta saja tanpa melakukan rasa syukur itu. Kemudian kami solat magrib.
Mukenah lusuh yang ia gunakan. Lagi lagi air mata jatuh dari mata indah ini.
Tak mampu menahan derita yang anak kecil itu lakukan. Dalam doaku aku meminta semoga
anak kecil ini menjadi anak yang sukses ketika ia dewasa kelak. Dan ia mampu
membantu teman-temannya yang seperti dia.
Ketika kami akan berpisah, hatiku
tak tega meninggalkannya. Pada akhirnya aku memutuskan untuk membawa dia untuk
ikut denganku. Akan aku asuh dia sebagai adikku. Meskipun aku sekarang masih
kuliah tetapi insyallah aku mampu
untuk menghidupinya. Dan aku berusaha untuk dia bisa sekolah. Aku menawarkannya
untuk ikut denganku. Akan tetapi ia tidak mau. Ia tidak mau meninggalakan
teman-temannya dan tempat tinggal dia yang menjadi kenangan dengan orang
tuanya. aku berikan opsi-opsi yang bisa membuat dia untuk setuju tinggal di
tempatku. Tetapi ia tidak mau. Ia kasihan dengan teman-temannya. Ketika ia
susah temannya selalu menemaninya. Dan nanti ketika ia ikut ia akan senang
sendiri tidak dengan temannya. Dan ia akan kehilangan kenangannya bersama
ibunya. Tetapi sungguh teman-temannya baik sekali. Teman-temannya berkata
kepada Laili.
“Laili,
kamu ikut saja dengan Mbak Putri.”
“
Tidak mau! Aku tidak mau meninggalkan kalian.”
“
Santai Laili, apakah ketika kamu sudah tinggal dengan Mbak Putri kamu tidak
mengunjungi kami? Pasti nanti Mbak Putri akan selalu mengajakmu untuk
mengunjungi kami. Tempat ini masih terbuka untukmu Laili.”
“
Tetapi…”
“
Sudahlah Laili ikut saja. Meskipun tempat kta berbeda tetapi hati kita masih
satu. Kami yakin Mbak Putri akan sering mengajakmu kesini. Iya kan Mbak Putri?”
“Iya,
Mbak Putri janji akan mengajak Laili lebih sering kesini.”
Dan akhirnya Laili ikut dengan Mbak
Putri. Akhirnya impian Laili untuk bersekolah terwujud. Ia diikutkan les
mendongeng oleh Mbak Putri. Setiap satu minggu sekali ia selalu mengunjungi
teman-temannya di alon-alon tempat mereka sering berkumpul. Mereka disana
membaca bersama. Dan seperti biasa Mbak Putri selalu membagikan sedikit
rezekinya untuk anak-anak jalanan. Sekarang Laili telah menjadi pendongeng yang
luar biasa. Ia sering diundang untuk mengisi acara di salah satu stasion
televisi swasta. Dan gajinya itu dibuat dia untuk membuat rumah untuk
teman-teman pengamennya dan perpustakaan untuk membaca teman-temannya. Dan ia
membuat rumah kardus kecil disamping rumah tinggalnya yang sekarang. Teman
tidak hilang dan kenangan pun tidak hilang. Usaha dan kerja kerasmulah yang
menjadi kunci kesuksesanmu. Jangan pantang menyerah. Gagal sekali dua kali itu
hal biasa. Kalau ingin sukses pasti akan mengalami kegagalan.
Semarang.
25 September 2016