Tampilkan postingan dengan label Informasi Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Lain. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2020

Mudik dan Pulang Kampung Versi Tesaurus

A. MUDIK
       Gambar 1. Tesaurus Online (http://tesaurus.kemdikbud.go.id/)

     Versi tesaurus mudik bersinonim dengan verba (kata kerja) perubahan atau perpindahan dan penduduk. Perubahan atau penduduk dipakai bergantung konteks.
1. Verba (kata kerja) perubahan bisa bersinonim dengan bolak-balik, hilir mudik, ke sana kemari, kian kemari, maju mundur, mondar-mandir, naik turun, pulang pergi.
2. Verba (kata kerja) penduduk bisa bersinonim dengan mudik, pulang kampung, dan pulang rantau.

B. PULANG KAMPUNG
Gambar 2. Tesaurus Online (http://tesaurus.kemdikbud.go.id/)


     Versi tesaurus pulang kampung bersinonim dengan mudik, pulang kampung, dan pulang rantau.


     Jadi, menurut versi tesaurus antara mudik dan pulang kampung itu bersinonim atau sama artinya. 

Minggu, 26 April 2020

Apakah Mudik dan Pulang Kampung Memiliki Makna Tak Sama?

A. MUDIK 
Gambar 1.  KBBI Daring V  (https://kbbi.kemdikbud.go.id/)

Arti yang pertama yakni mudik adalah berlayar atau pergi ke udik (ke hulu sungai, pendalaman). Contoh :  
Rini mudik dari kota Jakarta ke desa Seso kabupaten Blora.

Arti yang kedua yakni mudik adalah pulang ke kampung halaman
Contoh : 
Seminggu menjelang lebaran sudah banyak orang yang mudik.


B. PULANG KAMPUNG 
Gambar 2.  KBBI Daring V (https://kbbi.kemdikbud.go.id/)

Pulang kampung adalah kembali ke kampung halaman atau mudik 
Contoh :
Tono pulang kampung setelah tidak ada lagi perkerjaan di kota. 


          Menurut versi KBBI arti mudik dan pulang kampung adalah sama. Menurut saya arti kata itu bisa berubah bergantung konteks. Sehingga jangan  menelaah mentah-mantah arti saja tetapi juga harus mempertimbangkan konteks. 
          Menurut saya mudik dan pulang kampung memiliki kesamaan yaitu pulang ke kampung halaman dari rantauan. Tetapi jika dilihat pada konteks sekarang ini ada perbedaan pada waktunya. Jika mudik istilah yang digunakan ketika mendekati lebaran. Jika pulang kampung digunakan ketika tidak ada lagi pekerjaan atau keperluan di tempat rantau. 


Sabtu, 15 November 2014

POLA KERUANGAN KOTA


DEFINISI KOTA
1.  Peraturan Mendagri No. 2 Tahun 1987 pasal 1
Kota :    pusat pemukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan administrasi yang diatur dalam perundang-undangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan   perkotaan

2.  Prof. Bintarto
Kota :    sistem jaringan kehidupan yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis

Ciri-ciri kota :
A.   Ciri-ciri Fisik :
a)    terdapat tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan
b)    terdapat tempat-tempat untuk parkir
c)    terdapat tempat-tempat untuk rekreasi dan olahraga
B.    Ciri-ciri Sosial :
a)    Masyarakatnya heterogen
b)    Individualisme dan materialisme
c)    Mata pencaharian masyarakatnya non agraris
d)    Corak kehidupan bersifat gesselschaft (patembayan)
e)    Pandangan hidup masyarakatnya lebih rasional
f)    Adanya kesenjangan sosial yang mencolok antara masyarakat kaya dengan miskin

Klasifikasi Kota
A.   B’dsrkan fungsinya
1.  Kota sebagai pusat kebudayaan
Mempunyai potensi budaya (berkaitan dengan kehidupan agama serta pusat kerajaan pada masa silam) yang lebih dominan dibandingkan dengan potensi yang lain
Contoh : Athena dan Baghdad

2.  Kota sebagai pusat perdagangan
Biasanya merupakan kota pelabuhan dengan aksesibilitas yang tinggi baik dari darat maupun dari laut.
Contoh : New York, Hongkong, Singapura, Rotterdam dan Bombay

3.  Kota sebagai pusat Industri
Memiliki kegiatan industri yang lebih dominan dibandingkan kegiatan-kegiatan lainnya
Contoh : Amsterdam, Atlanta, Caracas



4.  Kota sebagai pusat pemerintahan
Dapat berkembang dengan pesat karena peranannya mengatur sistem pemerintahan. Pada umumnya memiliki hubungan yang luas dengan kota-kota lainnya
Contoh : Jakarta, Delhi, dan Kuala Lumpur

5.  Kota sebagai pusat rekreasi dan kesehatan
Dapat menarik pendatang, baik untuk tujuan rekreasi maupun penyembuhan. Selain karena wajah kota yang indah, umumnya kota ini berada di daerah dataran tinggi dengan suhu udara yang sejuk atau daerah pantai.
Contoh : Bangkok, Buenos Aires

B.   B’dsrkan jumlah penduduknya
       Menurut National Urban Development Strategic
Jenis Kota
Perkiraan jumlah penduduk
Kota Kecamatan
3.000 – 20.000
Kota Kecil
20.000 – 200.000
Kota Sedang
200.000 – 500.000
Kota Besar
500.000 – 1.000.000
Kota Metropolitan
> 1.000.000

PERKEMBANGAN KOTA

a.    Faktor yang mempengaruhi perkembangan kota
1)    Faktor Alam :
relatif statis karena segala bentuk perubahan yang terjadi berlangsung dalam waktu yang relatif lama
2)    Faktor Kependudukan
sangat dinamis terutama apabila ditinjau dari kuantitasnya
* Pertambahan penduduk alami
* Urbanisasi

3)    Faktor Budaya
yaitu tingkat kepandaian manusia dalam mengelola lingkungan kehidupannya (tingkat penguasaan teknologi)

b.    Tahap Perkembangan Kota
Menurut Lewis Munford :
a)    Tahap Eopolis
       tercermin adanya perkampungan yang makin maju dan mengarah ke kota
b)    Tahap Polis
       kota yang masih berorientasi agraris meskipun muncul beberapa kegiatan industri
c)    Tahap Metroplis
       kota yang berorientasi industri

d)    Tahap Megalopolis
       ditandai oleh perubahan perilaku manusia hanya berorientasi pada materi
e)    Tahap Tiranopolis
       tolak ukur budaya dilihat pada sesuatu yang nampak saja, misalnya kekayaan, serta ketidakacuhan mengenai aspek kehidupan. Selain itu, kondisi perdagangan mulai menunjukkan adanya penurunan dan tingkat kemacetan lalu lintas dan kriminalitas sangat tinggi
f)    Tahap Nekropolis
       kota mati (the city of dead) dan menuju kehancuran. Hal ini disebabkan adanya peperangan, kelaparan, atau wabah yang melanda kota tersebut.

c.    Teori Perkembangan Kota  
A.   TEORI KONSENTRIS ..... E.W.BURGESS
-   penggunaan lahan secara melingkar
-   inti kota sebagai pusat kegiatan ekonomi terletak di pusat lingkaran. Makin ke pinggir makin berkurang, tetapi pemukiman semakin banyak

 
 


Gambar :








1.   Zona Pusat Wilayah Kegiatan (Central Bussines Districts) -->didalamnya terdapat pusat pertokoan besar, gedung perkantoran yang bertingkat, bank, hotel, restoran, dan sebagainya
2.   Zona Peralihan atau zona transisi --> zone peralihan merupakan konsentrasi penduduk miskin. Sering ditemui wilayah kumuh (slum area)
3.   Zona Pemukiman Kelas Proletar--> didiami oleh para pekerja yang berpenghasilan kecil atau buruh dan karyawan kelas bawah. Ditandai oleh adanya rumah susun sederhana.
4.   Zona Pemukiman Kelas Menengah (Residental Zone) -->merupakan kompleks perumahan karyawan kelas menengah yang memiliki keahlian tertentu.
5.   Wilayah Tempat Tinggal Masyarakat Berpenghasilan Tinggi ditandai dengan kawasan elit. Sebagian besar penduduknya merupakan kaum eksekutif
6.   Zona Penglaju (Commuters) -->merupakan wilayah yang memasuki wilayah belakang (Hinterland) atau merupakan wilayah batas desa-kota. Penduduknya bekerja di kota tetapi tinggal di pinggiran kota.


B.   TEORI SEKTORAL ..... HOMMER HOYT
-   penggunaan lahan berdasarkan sector-sektor
-   CBD (Central Business Distric/Pusat Kegiatan) berada di pusat kota
-   lahan lainnya untuk sector-sektor seperti : industri, pendidikan, perumahan dll.

1.      Zona 1: Zona pusat wilayah kegiatan.
2.      Zona 2: Zona dimana terdapat grossier dan manufactur.
3.      Zona 3: Zona wilayah permukiman kelas rendah.
4.      Zona 4: Zona permukiman kelas menengah.
5.      Zona 5: Zona permukiman kelas tinggi.

C.   TEORI INTI GANDA ... C.D. HARRIS & EDWARD ULLMAN
-   hanya ada satu CBD dalam suatu kota
-   dikelilingi berbagai inti kota dan pusat-pusat pertumbuhan baru seperti komplek perguruan tinggi, pelabuhan dan industri serta kota kecil.


 
 










·         Zona 1: Zona pusat wilayah kegiatan.
·         Zona 2: Zona wilayah terdapat para grossier dan manufactur.
·         Zona 3: Zona wilayah permukiman kelas rendah.
·         Zona 4: Zona permukiman kelas menengah.
·         Zona 5: Zona permukiman kelas tinggi.
·         Zona 6: Zona manufactur berat
·         Zona 7: Zona wilayah di luar pusat wilayah Kegiatan (PWK)
·         Zona 8: Zona wilayah permukiman suburb
·         Zona 9: Zona wilayah industri suburb
PERBEDAAN TEORI KONSENTRIS, SEKTORAL DAN PUSAT KEGIATAN GANDA

No.
Faktor Pembeda
Teori
Konsentris
Sektoral
Pusat Kegiatan Ganda
1.


2.





3.


4.
Pola


Transportasi dan Komunikasi




Latar belakang lingkungan

Daerah kegiatan
Konsentris


dianggap tdk berperan




tidak begitu berperan

pusat kegiatan tunggal
Modifikasi konsentris

mulai memper
timbangkan & mempunyai peran yang besar

tidak begitu berperan

pusat kegiatan tunggal
Menyebar tidak teratur

berperan sangat besar




berperan sangat penting

daerah kegiatan ganda



                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            


Jumat, 14 November 2014

PENYEBAB JATUHNYA KABINET DI INDONESIA


Penyebab jatuhnya 7 kabinet di indonesia

Penyebab kabinet mengalami jatuh bangun pada masa demokrasi liberal adalah akibat kebijkaan-kebijakan yang dalam pandangan parlemen tidak menguntungkan Indonesia ataupun dianggap tidak mampu meredam pemberontakan-pemberontakan di daerah. Sementara keberlangsungan pemerintah sangat ditentukan oleh dukungan di parlemen.

a.kabinet Natsir (6 september 1950-21 maret 1951)



Penyebab jatuhnya Kabinet Natsir dikarenakan kegagalan Kabinet ini dalam menyelesaikan masalah Irian Barat dan adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Kabinet Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden.

b.KABINET SUKIMAN (27 April 1951 – 3 April 1952)



Kejatuhan Kabinet Soekiman merupakan akibat dari ditandatanganinya persetujuan bantuan ekonomi dan persenjataan dari Amerika Serikat kepada Indonesia atas dasar Mutual Security Act ( MSA ). Peretujuan ini menimbulkan tafsiran bahwa Indonesia telah memasuki Blok Barat, yang berarti bertentangan dengan prinsip dasar politik luar negri Indonesia yang bebas aktif. Muncul pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan mandatnya kepada presiden.
C.KABINET WILOPO (3 April 1952 – 3 Juni 1953)



Akibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden pada tanggal 2 Juni 1953.

D.KABINET ALI SASTROAMIJOYO I (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)

NU menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden.

E.KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956)



Setelah hasil pemungutan suara diumumkan dan pembagian kursi di DPR diumumkan, maka tanggal 2 Maret 1956, Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri, menyerahkan mandatnya kepada Presiden, untuk dibentuk kabinet baru berdasarkan hasil pemilihan umum. Sebenarnya kabinet ini seandainya terus bekerja tidak apa-apa selagi tidak ada mosi tidak percaya dari parlemen. Tetapi secara Etika politik demokrasi parlementer, kabinet ini dengan sukarela menyerahkan mandatnya, setelah berhasil melaksanakan Pemilu baik untuk anggota DPR maupun konstituante.
F.KABINET ALI SASTROAMIJOYO II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957)

ALI SASTROAMIJOYO II



Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi (Januari 1957), membuat kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada Presiden pada tanggal 14 Maret 1957.

G.KABINET DJUANDA ( 9 April 1957- 5 Juli 1959)

Djoeanda Kartawidjaja



Berakhir saat presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI yaitu Demokrasi Terpimpin.

Sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA)


A. Latar Belakang Konferensi Asia Afrika

Sebelum perang dunia II, negara-negara dunia ketiga yang berada di kawasan benua Asia dan Afrika umumnya adalah daerah jajahan. Namun setelah berakhirnya perang dunia II pada Agustus 1945, negara-negara dunia ketiga menjadi bangkit dan semakin meningkatkan perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan timbulnya konflik dan pergolakan di berbagai tempat seperti konflik di Semenanjung Korea, Vietnam, Palestina, Yaman, Daratan China, Afrika, dan Indonesia.

Kondisi keamanan dunia yang masih belum stabil pasca berakhirnya perang dunia kedua tersebut semakin diperparah dengan munculnya perang dingin antara dua blok yang saling berseberangan yaitu Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet. Kedua kekuatan besar yang saling berlawanan baik secara ideologis maupun kepentingan tersebut terus berlomba-lomba untuk membangun senjata modern, sehingga situasi dunia pada saat itu selalu diliputi oleh kecemasan akan terjadinya perang nuklir.

Kondisi tersebutlah yang mendorong negara-negara yang baru merdeka untuk menggalang persatuan dan mencari jalan keluar demi meredakan ketegangan dunia dan memelihara perdamaian.

B. Persiapan Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika

Sebelum Konferensi Asia Afrika (KAA) diselenggarakan, telah terlebih dahulu dilaksanakan pertemuan pendahuluan di Colombo (Srilanka) pada tanggal 28 April 1954 hingga 2 Mei 1954. Pertemuan inilah yang dikenal sebagai Konferensi Colombo. Hasil dari Konferensi Colombo ini adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan konferensi lanjutan antara negara-negara Asia-Afrika.

Pertemuan selanjutnya diadakan di Bogor (Indonesia) pada tanggal 28-31 Desember 1954. Dalam pertemuan ini, dibahas mengenai persiapan penyelenggaraan KAA. Konferensi di Bogor ini dikenal sebagai Konferensi Panca Negara. Hasil dari Konferensi Panca Negara antara lain:

Mengadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada bulan April 1955.
Menetapkan kelima negara peserta Konferensi Panca Negara (Konferensi Bogor) sebagai negara-negara sponsor.
Menetapkan jumlah negara Asia Afrika yang akan diundang.
Menentukan tujuan pokok Konferensi Asia Afrika.

Konferensi Panca Negara sendiri dihadiri oleh lima negara pelopor, yaitu:

Indonesia, diwakili oleh Perdana Menteri Mr. Ali Sastroamijoyo.
India, diwakili oleh Perdana Menteri Shri Pandit Jawaharlal Nehru.
Pakistan, diwakili oleh Perdana Menteri Muhammad Ali Bogra.
Srilanka, diwakili oleh Perdana Menteri Sir John Kotelawa.
Burma (sekarang Myanmar), diwakili oleh Perdana Menteri U Nu.
C. Tujuan Konferensi Asia Afrika

Tujuan diselenggarakan KAA antara lain:

Kepentingan bersamaa negara-negara Asia Afrika.
Meningkatkan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.
Kedaulatan negara, imperialisme, dan masalah-masalah rasialisme.
Kedudukan negara-negara Asia Afrika dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia.
D. Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika dilaksanakan dilaksanakan di Bandung pada tanggal 18-25 April 1955. Konferensi ini berlangsung di Gedung Merdeka yang sekarang terletak di Jalan Asia Afrika, Bandung. Konfrensi yang dibuka secara resmi oleh Presiden Sukarno pada tanggal 18 April 1955 ini dihadiri oleh 29 negara, dan dan 6 diantaranya adalah negara-negara Afrika.


gedung merdeka, kaa
Gedung Merdeka

Ke-29 negara peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung tersebut antara lain:

Afganistan, Yordania, Saudi Arabia, Burma, Kamboja, Srilanka, Jepang, Laos, Sudan, Ethiopia, Libanon,  Suriah, Filipina, Liberia, Turki, Ghana, Libya, Vietnam Selatan, India, Thailand, Vietnam Utara, Indonesia, Mesir, Yaman, Irak, Nepal, Pakistan, Iran, dan RRC.

Susunan pengurus Konferensi Asia Afrika adalah sebagai berikut:

Ketua Komite :  Mr. Ali Sastroamijoyo
Ketua Komite Ekonomi : Prof. Ir Rooseno
Ketua Komite Kebudayaan : Mr. Moh. Yamin
Sekretaris Jenderal : Roeslan Abdul Ghani
Berbagai masalah yang dibahas dalam konferensi tersebut antara lain:

Usaha untuk meningkatkan kerjasama bidang ekonomi, sosial, budaya, dan hak asasi manusia.
Hak menentukan nasib sendiri.
Rasialisme (perbedaan warna kulit).
Kerjasama internasional.
Masalah pelucutan senjata.
Masalah rakyat yang masih terjajah di Afrika Utara.
Masalah Irian Barat.
E. Hasil Konferensi Asia Afrika

Hasil Konferensi Asia Afrika yang paling penting adalah telah terjadinya suatu kerjasama di antara negara-negara Asia Afrika. Selain itu, pertemuan KAA telah berhasil pula merumuskan sepuluh asas yang tercantum dalam Dasasila Bandung.  Dalam Dasasila Bandung, tercermin penghargaan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, dan perdamaian dunia. Dan berikut adalah isi Dasasila Bandung.

Dasasila Bandung

Menghormati hak-hak asasi manusia sesuai dengan Piagam PBB.
Menghormati kedaulatan wilayah setiap bangsa.
Mengakui persamaan semua ras dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil.
Tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal dalam negara lain.
Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau secara kolektif.
Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.
Tidak melakukan agresi terhadap negara lain.
Menyelesaikan masalah dengan jalan damai.
Memajukan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.
Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

SISTEM EKONOMI GERAKAN BENTENG

SEKILAS SEJARAH

Sistem Ekonomi Gerakan Benteng

       Sistem ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah yang dilakukan pada masa Kabinet Natsir yang direncanakan oleh Sumitro Djojohadikusumo (menteri perdagangan). Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia).
        Programnya adalah:
1. Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
2. Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
3. Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit.
4. Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
        Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Tetapi tujuan program ini tidak dapat tercapai dengan baik meskipun beban keuangan pemerintah semakin besar.
         Kegagalan program ini disebabkan karena :
1. Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal.
2. Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung konsumtif.
3. Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah.
4. Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya.
5. Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara hidup mewah.
6. Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka peroleh.
          Dampaknya adalah program ini menjadi salah satu sumber defisit keuangan. Beban defisit anggaran Belanja pada 1952 sebanyak 3 Miliar rupiah ditambah sisa defisit anggaran tahun sebelumnya sebesar 1,7 miliar rupiah. Sehingga menteri keuangan Jusuf Wibisono memberikan bantuan kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional dari golongan ekonomi lemah sehingga masih terdapat para pengusaha pribumi sebagai produsen yang dapat menghemat devisa dengan mengurangi volume impor.

Jumat, 17 Oktober 2014

SOSIOLOGI XII BAB 2 (LEMBAGA SOSIAL)

SOSIOLOGI XII (LEMBAGA SOSIAL)

LEMBAGA SOSIAL

Menurut Soerjono Soekanto:
Adalah kumpulan norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

Major Polak:
Merupakan suatu kompleksitas atau system peraturan dan adapt istiadat yang mempertahankan nilai-nilai penting.

Ciri-ciri lembaga sosial menurut Gillin & Gillin:
1.        mempunyai tingkat kekelan tertentu
2.        mempunyai tujuan
3.        mempunyai perangkat untuk mencapai tujuan
4.        mempunayi lambing atau symbol
5.        mempunyai tradisi tertulis dan tidak tertulis
6.        berbentuk organisasi pola pemikiran dan perilaku yang terwujud melalui aktifitas masyarakat.

Tipe-tipe Lembaga Sosial:
1. Berdasarkan perkembangannya:
    a. Crescive institutions. Lembaga yang tidak sengaja tumbuh
       dari adapt istiadat masyarakat
    b. Enacted institutions. Lembaga yang sengaja dibentuk
        untuk kepentingan tertentu
2. Berdasarkan sistem nilai yang diterima masyarakat:
    a. Basic Institutions. Lembaga yang digunakan untuk
       mempertahankan dan memelihara tata tertib dalam
       masyarakat
    b. Subsidiary Institutions. Lembaga sosial yang berkaitan
       dengan hal-hal yang kurang penting.
3. Dari segi penerimaan masyarakat
    a. Social sanctioned institutions. Lembaga yang diterima
       masyarakat. spt; sekolah, perusahaan, perbankan dan
       koperasi
    b. Unsanctioned Institutions. Lembaga yang ditolak
        masyarakat, spt; perjudian, perampokan, dll
4. Dari faktor penyebarannya
    a. General Institutions. Lembaga yang dikenal oleh hampir
       seluruh masyarakat di dunia. Spt; agama, IPTEK
    b. Restricted Institutions. Lembaga yang dianut oleh
        masyarakat tertentu. Spt; agama Islam, Kristen, Hindu, dll

5. Dari sudut fungsinya:
    a. Operative Institutions. Lembaga yang berfungsi
        menghimpun tata cara yang diperlukan untuk mencapai
        tujuan lembaga. Spt; Lembaga industri
    b. Regulative Institutions. Lembaga yang bertujuan
        mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak
        menjadi bagian mutlak dari lembaga itu sendiri. Contoh;
        Lembaga Hukum

Fungsi Lembaga Sosial:
1.        Memberikan pedoman pada anggota masyarakat bagaimana seharusnya bertingkah laku
2.        Menjaga keutuhan masyarakat
3.        Memberikan pedoman kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial

Lembaga sosial juga memiliki fungsi:
1.       Manifes (Nyata)
2.       Latent ( Terselubung)

Lembaga Sosial yang ada dalam masyarakat:

1. Lembaga/pranata Keluarga.
    Merupakan kesatuan kelompok terkecil dalam masyarakat.
    Memiliki fungsi Nyata:
a.        Biologis/Reproduksi. Mengatur hubungan seksual untuk memperoleh keturunan
b.       Edukasi. Mengatur tanggungjawab untuk merawat dan mendidik anak
c.        Sosial. Mengatur hubungan kekeluargaan dan kekerabatan
d.       Afeksi. Mencurahkan kasih saying kepada anggota keluarga yang lain.
Fungsi Tersembunyi:
a.        Ekonomi. Mengatur dan memenuhi kebutuhan rumah tangga
b.       Pengendali sosial dari tindakan menyimpang
c.        Pewarisan gelar dan marga
d.       Proteksi. Melindungi anggota keluarga

2. Lembaga/Pranata Ekonomi
Adalah bagian dari pranata sosial yang bertalian dengan pengaturan bidang ekonomi, seperti masalah produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa.

3. Lembaga/Pranata Politik
Merupakan institusi atau pranata yang mempunyai kegiatan dalam suatu Negara yang berkaitan dengan proses untuk menentukan dan melaksanakan tujuan Negara.
Fungsi pranata politik:
a.        Memelihara ketertiban dalam wilayahnya
b.       Menjaga keamanan dari berbagai ancaman dan serangan pihak luar
c.        Melaksanakan kesejahteraan umum, menyelenggarakan perencanaan dan pelayanan pemenuhan kebutuhan publik.

4. Lembaga/Pranata Pendidikan
Fungsi Nyata:
a.        Mempersiapkan anggota masyarakat dalam mencari nafkah
b.       Mengembangkan bakat/potensi yang dimiliki seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
c.        Melestarikan kebudayaan dengan mewariskan kepada generasi berikutnya
d.       Melatih keterampilan sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki seseorang.

Fungsi Latent/tersembunyi:
a.        Menunda kedewasaan anak
b.       Menjadi saluran mobilitas sosial
c.        Memelihara integrasi dalam masyarakat

 5. Lembaga/Pranata Agama
Kedudukan agama terletak padfa ajaran yang dipandang sacral oleh pemeluknya. Melalui wahyu atau kitab suci memberi petunjuk kepada manusia dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Unsur-unsur Agama:
c.        Kepercayaan
d.       Symbol agama
e.        Praktek keagamaan
f.         Ummat beragama
g.       Pengalaman beragama

Fungsi Agama:
1.        Berfungsi sebagai petunjuk untuk mengatasi segala kesulitan yang diakibatkan oleh ketidakpastian dan keterbatasan manusia
2.        Sebagai pengukuhan nilai-nilai yang bersumber pada kerangka acuan sakral sehingga norma dan sanksinya pun sakral
3.        Menciptakan suatu ikatan bersama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat
4.        fungsi sosialisasi individu dalam mengenal nilai dan norma yang dianutnya.