JIWA-JIWA
YANG HILANG
Oleh Nurlaili Irias Putri
T
|
iupan
angin yang kencang dan mengahancurkan rambut-rambut putih di kursi pantai
dengan suara-suara gemuruh ombak yang membuat batin dan pikiran ini tenang.
Perahu yang berjajar membentuk sebuah barisan bersap tanpa rapi, mulai membelah
lautan dengan sayap-sayap perahu yang kuat. Ribuan lubang-lubang jaring lemah
gemulai di atas istana yang akan menjadi buruan. Seikat batu pun diturunkan ke
istana yang memiliki ribuan pasukan yang siap berperang dan perempuan cantik.
Aku memanggil perempuan cantik tersebut dengan sebutan Sang Putri Laut. Sang
Putri Laut menguak dari tempat berlindungnya, mengingatkan pada kehidupanku
sepuluh tahun yang lalu. Dimana istana ini aku anggap sebagai tempat yang
paling nyaman tetapi menjadi tempat yang terkutuk. Istana Nelayan merupakan
sebuah istana yang seharusnya makmur akan tetapi yang membuat kemakmuran itu
telah dijaring oleh orang-orang tanpa dosa yang terkutuk. Istana yang
seharusnya memiliki sumber daya alam yang limpah ruah kini menjadi tenggelam
sumber daya alam tersebut. Istana yang menjadi temapt eksploitasi oleh
orang-orang tanpa dosa sungguh orang-orang yang tak berperi kemanusiaan. Ibarat
seorang nelayan yang menggunakan jarring yang lebar dan kuat untuk dapat menjaring seluruh isi yang ada didalamnya.
Orang-orang yang ada didalam jaring itu pun hanya bisa melarikan diri jika ia
memang kuat dan berani, mereka yang yakin akan bisa meloloskan diri, jangan
sampai mengalami yang namanya putus asa. Jika meraka beranggapan mereka tidak
kuat, tidak berani, tidak yakin, dan mudah putus ada itulah mereka yang ada
didalam jaring-jaring tersebut. Bak
seekor ikan paus bersama dengan ikan kecil-kecil yang terjerat oleh jaring
tersebut kemudian ia akan terus berusaha untuk merobekkan jaring tersebut
supaya ia dapat meloloskan diri dan membantu meloloskan ikan-ikan kecil juga.
Meskipun pada saat mencoba merobek
jaring itu satu dua kali tidak bisa tetapi si paus tersebut masih berusaha
tanpa mengenal putus asa. Dalam kita berkehidupan hendaklah memiliki sifat yang
seperti itu. Berfikirlah bawa kalian kuat, berani, yakin apapun yang akan
dilakukan, dan tidak kenal putus asa. Sehingga hidup kita akan tentram dan makmur.
Aku masih duduk dibawah paying
menggunakan kursi pantai yang membuatku nyaman. Memejamkan mata merasakan
sejuknya udara, perkelahian para ombak yang tak henti. Dan air yang menari
lentur di pasir yang putih dan halus ini. Lima puluh tahun lalu aku hanyalah
bocah ingusan yang gemar pergi kepantai membuatku pantai dan nelayan adalah
magnet kehidupanku. Hari-hari yang hanya dijumpai dengan air, ombak, kepiting,
pasir, perahu. Hidup yang setiap harinya melihat para orang-orang tanpa dosa
menjarah isi lautan tanpa mengenal untuk mengembangbiakan. Lima puluh tahun
lalu aku hanyalah seekor ikan teri yang pergi kemana-mana bersama gerombolannya.
Arah yang ditentukan dengan arus yang menghanyutkan di derasnya ombak-ombak
yang sedang bermain drumband. Hidup
ini hanya mengikuti alur yang telah digariskan oleh Maha Cipta alam semesta
ini. Hanya mampu pasrah dan menatap langit ketika jaring berlari mengerjar kami
dan sirip-sirip yang tak mampu berlari dengan kencang. Perut yang mulai
berdendang menggoa kami untuk menyantap makanan yag sebenarnya itu adalah
sebuah jebakan. Jebakan dari orang-orang tanpa dosa yang menjadikan kami
pasrah. Saat itu Aku berkhayal, membayangkan jika diriku adalah seekor paus
yang memiliki tenaga kuat, gigi yang tajam ketika orang-orang tanpa dosa
menjarah kami, aku bisa membebaskan mereka. Orang-orang tanpa dosa yang
menyusup dalam kehidupan kami yang tenang dan makmur ini. Dalam batinku berkata
ketika kita sudah diciptakan sebagai seekor hewan teri kemudian menjadi seekor
paus apakah kita berdosa? Apakah Tuhan marah kepadaku atau sebaliknya?.
Entahlah, akan tetapi aku berjuang untuk mengubah takdir itu karena ika paus
dan ikan teri hanya sebagai perumpamaan dalam kehidupanku. Lima puluh tahun
berlalu, dengan tekad berjuang dan berkorban akhirnya seekor ikan teri yang
kecil mungil dan hanya mampu berjalan mengikuti arus dapat berubah menjadi
seekor ika paus yang kuat dan memiliki gigi yang tajam.
Namaku Putri yang biasa dipanggil
Eyang Putri. Yang sekarang sudah menjadi seorang nenek-nenek tua yang tanpa
mampu lagi berjalan tegap. Aku lahir pada tahun 1947. Dua tahun setelah hari
kemerdekaan Indonesia. Tubuhku yang tak mampu berdiri tegap, kulit-kulit yang
mengkerut. Tulang belulang yang hanya terbungkus dengan dengan selembar kulit
ynag tak kuat lagi. Putri berarti anak perempuan raja, bukan berarti saya
adalah seorang anak raja. Aku hanyalah seorang anak dari seorang laki-laki dan
perempuan dari kalangan biasa saja. Tetapi keinginanku bukalah sekedar yang
biasa-biasa saja. Aku memimpikan seseorang yang terkenal, bermartabat, dan
disegani oleh setiap orang di dunia ini. Tapi aku hanyalah dilahirka dari
seorang yang biasa saja yaitu seorang anak nelayan. Istana laut yang mencari
pemenuh kebutuhan hidup yang serakah ini. Seluruh waktunya hanya digunakan
untuk mendengarkan suara angin yang melambai-lambai, suara ombak yang
bergemuruh, pohon-pohon kepala yang sedah asyik untuk berdendang bersama dengan
barisan yang rapid an pohon yang lebar. Laut yang memiki banyak sekali sumber
daya alam yang seharusnya dapat dimanfaat dengan maksimal akan tetapi hanya
ikan, ikan, dan ikan yang mereka mengerti. Ketika mereka sibuk dengan kehidupan
dilaut mungkin mereka tidak mengetahui mengenai pancasila, sumpah, pemuda, dan
mungkin hari kemerdekaan pun mereka tidak tahu. Aku pernah melihat seluruh
warga nelayan tersebut berkumpul bersama dikelurahan saya berfikir mungkin
mereka sedang berdiskusi ternyata mereka sedang melihat layar tancap. Karena
disetiap rumah mereka belum tentu ada televisinya. Pada tanggal 17 Agustus 1957
yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu usia saya 10
tahun. Semua stasiun tv hanya menyiarkan prosesi pengibaran dan penurunan
bendera merah putih saja. Menurut beberapa orang momen tersebut adalah momen
penting karena untuk mengingat kembali msa-masa kemerdekaan katanya. Aka tetapi
bertolak belakang dengan Aku. Aku mungkin salah satu orang yang tidak memperdulikan
hal tersebut. Karena menurut keluarga momen penting adalah mancari ikan dilaut.
Aliasnya laut, laut, dan laut. Hanya itu saja. Melihat prosesi penurunan dan
pengibaran bendera merah putih saya tak aku lihat apalagi untuk tahu menganai
pancasila, sumpah pemuda, dan mungkin mereka tidak ingin kapan hari kemerdekaan
Indonesia karena mereka sibuk dengan urusan dilautnya.
Di Istanaku, istana yang memiliki
kemiringan dalam pendidikan. Karena seluruh warga disana berfikiran lebih baik
mencari uang,uang, dan uang. Ke laut, laut, dan laut. Aku berfikir seperti itu
karena di istana kami tak ada satupun sekolah bahkan tak ada satu pun relawan
guru untuk memberikan ilmu kepada kami. Dikota-kota sekolah dan guru adalah hal
yang biasa karena pasti banyak dijumpai. Akan tetapi diistana kami tak kami
temukan satupun. Sungguh malang istnaku yang memiliki sumber daya alam yang
melimpah. Akan tetapi suatu hari ada seorang perempuan yang berbadan tinggi,
bertubuh langsing, dengan rambut yang terurai indah panjang, dan bersepatu yang
ketika melangkah memperlihatkan suara yang berjalan tegap dan tegas.
Perempuan itu bernama Ibu Laili. Ibu
laili berasal dari Jepara Jawa Tengah. Ia lulusan dari Universitas ternama di
Jawa Tengah. Ia lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Beberapa hari ia tinggal
diistana kami ia mendatangi ketua dari istana nelayan. Kami kira ia ingin
mendaftarkan dirinya sebagai warga istana kami yang baru akan tetapi ia ingin
menjadi seorang guru di istana kami. Ia berkata kepada ketua kami.
“Pak,
mohon maaf mengganggu. Saya Laili saya melihat disini tidak ada sekolah satu
pun. Apakah memang disini tidak ada atau bagaimana Pak?”
“Begini
Bu, Disini memang tidak ada sekolah satu pun karena tak ada satu pun guru yang
berminat atau ditugaskan disini Bu.”
“Mengapa
seperti itu Pak?”
“Saya
kurang tahu, Bu.”
“Akan
tetapi saya sudah berulang untuk kali menanyakan hal tersebut kepada
pemerintah. Pemerintah sudah mengatakan Iya akan kami proses akan tetapi sampai
sekarang tidak terwujud.”
“Bagaimana
kalau saya mengajar disini Pak? Bolehkah?”
“Yakin
ibu ingin mengajar di istaa kami ini?”
“Iya
Pak saya saggup mengajar di istana ini Pak.”
“
Iya sudah silahkan, Bu. Terima kasih ya
Bu. Akhirnya di istana kami ada guru yang sanggup untuk mengajar. Sehingga di
istana kami tidak megalami keterbelakangan dalam pendidikan.”
“Sama-sama
Pak. Mohon bantuannya ya Pak.”
Rasa yang luar biasa ketika saya
mendengarkan hal baik itu dibolehkan oleh ketua istana. Tantangan terbesar
bagaimana aku bisa membuat mereka anak-anak di istana tersebut tertarik dengan
pengajaranku. Setelah mendengar keputusan itu Aku bergegas menata rumahku. Aku
hiasi supaya mereka menarik untuk bersekolah. Rumah kecil yang sudah usah dan
reyot adalah sekolah bagi mereka. Kemudia saya kekota untuk membelikan mereka buku,
alat tulis, dan peralatan untuk bersekolah lainnya. Karena diistana itu tidak
ada dijual barang-barang untuk sekolah karena disana tidak ada sekolah.
Jangankan menjual barang-barang sekolah, barang-barang untuk nelayan saja
jarang dijupai disini padahal itu merupakan kerja mereka satu-satunya.
Waktu terus berputar waktunya aku
mulai untuk berjuang. Aku mulai satu persatu mendatangi istana-istana yang
indah-indah itu satu per satu. Aku mengajak ngobrol orang tua mereka kemudian
aku bertanya kepada anak mereka apakah mereka ingin bersekolah atau tidak.
Ketik saya bertanya kepada orang tuanya.
“Ibu,
Bapak, perkenalkan saya Laili dari Istana Permai.” (dengan senyum dengan penuh
harapan)
“Iya
Bu, silahkan masuk Bu.”
“Ada
apa ya Bu?”
“Begini
Pak, Saya membuat Sekoalh di Istana ini. Saya ingin anak-anak di Desa ini
Bersekolah Pak. Supaya ia tidak hanyamempunyai pekerjaan sebagai nelayan saja.
Akan tetapi bisa menjadi guru, dokter, tentara, dan lain-lain.”
“Kalau
saya terserah kepada anak Saya Bu.”
“Saya
mau saya mau sekolah.”
“Baik
Dik, besok mulai sekolah dirumah ibu ya.”
“Tidak
perlu membawa alas tulis karena ibu sudah sediakan dan cukup pakai baju
sehari-hari saja Nak, tak perlu memakai seragam ya Nak.”
“Baik
Bu.”
“Yeee..yeeee…
Aku sekarang sekolah.”
Aku
melanjutkan ke istana-istana yang lain. Orang tuanya juga sama jawabannya
seperti itu. Disitu aku merasa senang dan bersyukur. Dalam hatiku senang
sekali. Hampir 20 istana yang saya datangi mereka ingin sekolah. Dalam hati
juga berharap semoga mereka datang semua. Tetapi sekelibat tersirat pikiran
jika mereka tidak berangkat. Karena orang tua mereka ekpresi yang diungkapan
bertolak belakang dengan si anak.
Hari keesokan aku tetap optimis jika
dua puluh anak tersebut datang semua. Akan tetapi hari sudah mulai siang tak
ada satupun langkah kaki yang terdengar. Bayangan pun mulai kelam. Hati mulai
berdebar-debar, merasakan kebingungan yang mendalam. Sempat berfikir akankah
perjuanganku ini sa-sia? Entahlah. Udara panas mulai menyemburkan sehingga aku
mulai berfikir bagaimana jika aku yang mengunjungi mereka dirumahnya. Tanpa
berfikir pnjang Aku mulai mengambil sandalku yang lusuh dan sepeda yang
tedengar bunyi krek-krek-krek ketika di kayuh. Aku mulai berjalan diatas jalan
yang halus sehingga ketika terkena hujan jalanan tersebut berubah menjadi
lumpur. Ketika sudah mulai melewati istana-istana tersebut tertutup pintunya.
Itu untuk rumah pertama. Aku berfikir mungkin rumah yang pertama mereka sedang
pergi. Kemudian aku mengayuh sepedaku kembali menuju istana selanjutnya. Aku
berharap semoga istana selanjutnya tidak tertutup pintunya. Ternyata benar,
sesampainya diistana yang kedua memang tidak tertutup akan tetapi orang tuanya
berkata seperti ini “Maaf Bu, anak saya tadi sudah berangkat ke laut untuk
membantu ayahnya mencari ikan Bu.” Berfikir positif pun muncul mungkin anak
tersebut lupa jika hari ini ada sekolah karena belum merupakan kebiasaan tetapi
membantu orang tuanya dilaut adalah sebuah kebiasaaan. Aku mulai pamit dan
kembali menuju rumah selanjutnya akan tetapi responnya juga sama. Rasa putus
asa mulai menghampiri. Sehinngga hari kedua dan hari ketiga aku tak melakukan
apa-apa. Hari keempat pagi-pagi aku ingin pergi ke pantai untuk menyegarkan otakku.
Udara pantai memang menengkan, suara
burung yang berperang, gemuruh ombak yang menggulung-gulung dengan tenang. Pagi
itu, mulai para nelayang mulai berlayar. Tanpa aku sengaja utuk kepantai dengan
alasan meneliti apakah benar anak tersebut membantu orangtuanya untuk berlayar
akan tetapi untuk menenangkan fikiran. Akibat rasa penasaranku yang tinggi aku
pun menyelidiki apakah benar anak-anak tersebut membantu orangtuanya dilaut.
Ternyata setelah aku selidiki tak ada satu pun orag tua yang membawa anaknya
pada hari kemarin dan kedepan karena ketua istana memrintahkan kepada orangtua
yang memiliki anak supaya anaknya tidak mengikuti mencari ikan dilaut akan
tetapi untuk bersekolah. Muncul rasa penasaran lagi mengapa dirumah tidak ada
dan diluat tidak ada tetapi tidak bersekolah juga dirumahku. Ada kejanggalan
yang mulai menghantui pikiranku. Aku mulai menyelidiki satu persatu.
Aku mencari anak-anak tersebut
ditempat bermain. Ternyata hanya ada dua orang anak yang bermain. Kemudian aku
menghampirinya. Aku tidak mengira jika mereka meresponku seperti hantu. Tetapi
aku kejar mereka. Kemudian hanya satu anak yang tertangkap.
“Saya
ingin bersekolah Bu, akan tetapi orang tua saya tidak setuju Bu.”
“Bukankah
kemarin orangtuamu meyetujuinya?”
“Memang
ketika didepan ibu mereka menyetujuinya. Tetapi sebenarnya mereka tidak setuju.
Mereka tak mau memperlihatkan tidak setujunya mereka.”
“Alasannya
apa Nak?”
“Saya
hanya boleh dirumah membantu ibu dan ayah saja. Tetapi saya ingin bersekolah
Bu.”
“Baiklah,
besok ibu coba untuk menghubungi orangtua mu dan menjelaskannya.”
Keesokan
harinya saya menuju rumah si Anak tersebut. Anaknya bernama Rizi. Waktu yang
epat ternyata ayah dan ibunya Rizi ada dirumah. Ketika aku sedang menaruh
sepeda dengan bergegas ibu dari Rizi menutup
pintunya. Kemudian aku mengetuk
pintunya. Tak ada shutan sedikit pun padahal tadi jelas-jelas terbuka. Setelah
tiga jam aku menunggunya di depan istananya. Orang tua dari Rizi membukakannya.
Dengan nada yang tinggi orangtuanya berkata kepadaku.
“Ada
apa Anda kesini!”
“Mohon
maaf sebelumnya Bu. Saya disini hanya ingin menjelaskan menengai pentingnya
sekolah dan mengajak anak ibu untuk bersekolah.”
“Sudah
pergi saja! Lebih baik anak saya membantu kami bekerja daripada bersekolah!
Hanya meghabiskan uang saja!”
“Tidak
Bu. Dengan belajar anak itu akan mendapatkan ilmu dan ilmu tersebut akan
membantu anak ibu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan mendapatkan
gaji yang lebih tinggi Bu. Sehingga kehidupan ibu dan bapak dapat terangkat.”
Kemudian
ibu dan bapak tersebut membuka pintunya dengan perlahan dan berkata “Iya sudah
saya menyetujui anak saya untuk bersekolah.” Rasa syukur yang teramat dalam dan
seyum yang merekah dari bibirku. Kemudian orangtuan dari dua puluh anak
tersebut mengikuti untuk memperbolehkan
anaknya mengikuti sekolah. Hari yang sangat indah. Aku berpesan kepada
anak-anakku jangan sia-siakan kepercayaan orangtua kalian untuk bersekolah.
Lakukan yang terbaik untuk mereka. Angkatlah derejat dan martabat mereka. Persekolahan
pun berjalan dan alhamdulilah kami mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk
membangun sekolah dan pada akhirnya istana yang berisikan sumber daya yang
melimpah itu kemudian tidak hanya ikan saja yang merekan manfaat tetapi kelapa,
pantainya yang dijadikan obyek wisata, dll karena mereka punya ilmu dan
kemauan. Sehingga mereka bisa merubah perekonomian tersebut dan
mensejahteraankan Istana Nelayan.