Rabu, 18 Maret 2020

Jiwa-Jiwa Yang Hilang


JIWA-JIWA YANG HILANG

Oleh  Nurlaili Irias Putri

T
iupan angin yang kencang dan mengahancurkan rambut-rambut putih di kursi pantai dengan suara-suara gemuruh ombak yang membuat batin dan pikiran ini tenang. Perahu yang berjajar membentuk sebuah barisan bersap tanpa rapi, mulai membelah lautan dengan sayap-sayap perahu yang kuat. Ribuan lubang-lubang jaring lemah gemulai di atas istana yang akan menjadi buruan. Seikat batu pun diturunkan ke istana yang memiliki ribuan pasukan yang siap berperang dan perempuan cantik. Aku memanggil perempuan cantik tersebut dengan sebutan Sang Putri Laut. Sang Putri Laut menguak dari tempat berlindungnya, mengingatkan pada kehidupanku sepuluh tahun yang lalu. Dimana istana ini aku anggap sebagai tempat yang paling nyaman tetapi menjadi tempat yang terkutuk. Istana Nelayan merupakan sebuah istana yang seharusnya makmur akan tetapi yang membuat kemakmuran itu telah dijaring oleh orang-orang tanpa dosa yang terkutuk. Istana yang seharusnya memiliki sumber daya alam yang limpah ruah kini menjadi tenggelam sumber daya alam tersebut. Istana yang menjadi temapt eksploitasi oleh orang-orang tanpa dosa sungguh orang-orang yang tak berperi kemanusiaan. Ibarat seorang nelayan yang menggunakan jarring yang lebar dan kuat untuk dapat  menjaring seluruh isi yang ada didalamnya. Orang-orang yang ada didalam jaring itu pun hanya bisa melarikan diri jika ia memang kuat dan berani, mereka yang yakin akan bisa meloloskan diri, jangan sampai mengalami yang namanya putus asa. Jika meraka beranggapan mereka tidak kuat, tidak berani, tidak yakin, dan mudah putus ada itulah mereka yang ada didalam jaring-jaring tersebut.  Bak seekor ikan paus bersama dengan ikan kecil-kecil yang terjerat oleh jaring tersebut kemudian ia akan terus berusaha untuk merobekkan jaring tersebut supaya ia dapat meloloskan diri dan membantu meloloskan ikan-ikan kecil juga. Meskipun pada saat  mencoba merobek jaring itu satu dua kali tidak bisa tetapi si paus tersebut masih berusaha tanpa mengenal putus asa. Dalam kita berkehidupan hendaklah memiliki sifat yang seperti itu. Berfikirlah bawa kalian kuat, berani, yakin apapun yang akan dilakukan, dan tidak kenal putus asa. Sehingga hidup kita akan tentram dan makmur.
            Aku masih duduk dibawah paying menggunakan kursi pantai yang membuatku nyaman. Memejamkan mata merasakan sejuknya udara, perkelahian para ombak yang tak henti. Dan air yang menari lentur di pasir yang putih dan halus ini. Lima puluh tahun lalu aku hanyalah bocah ingusan yang gemar pergi kepantai membuatku pantai dan nelayan adalah magnet kehidupanku. Hari-hari yang hanya dijumpai dengan air, ombak, kepiting, pasir, perahu. Hidup yang setiap harinya melihat para orang-orang tanpa dosa menjarah isi lautan tanpa mengenal untuk mengembangbiakan. Lima puluh tahun lalu aku hanyalah seekor ikan teri yang pergi kemana-mana bersama gerombolannya. Arah yang ditentukan dengan arus yang menghanyutkan di derasnya ombak-ombak yang sedang bermain drumband. Hidup ini hanya mengikuti alur yang telah digariskan oleh Maha Cipta alam semesta ini. Hanya mampu pasrah dan menatap langit ketika jaring berlari mengerjar kami dan sirip-sirip yang tak mampu berlari dengan kencang. Perut yang mulai berdendang menggoa kami untuk menyantap makanan yag sebenarnya itu adalah sebuah jebakan. Jebakan dari orang-orang tanpa dosa yang menjadikan kami pasrah. Saat itu Aku berkhayal, membayangkan jika diriku adalah seekor paus yang memiliki tenaga kuat, gigi yang tajam ketika orang-orang tanpa dosa menjarah kami, aku bisa membebaskan mereka. Orang-orang tanpa dosa yang menyusup dalam kehidupan kami yang tenang dan makmur ini. Dalam batinku berkata ketika kita sudah diciptakan sebagai seekor hewan teri kemudian menjadi seekor paus apakah kita berdosa? Apakah Tuhan marah kepadaku atau sebaliknya?. Entahlah, akan tetapi aku berjuang untuk mengubah takdir itu karena ika paus dan ikan teri hanya sebagai perumpamaan dalam kehidupanku. Lima puluh tahun berlalu, dengan tekad berjuang dan berkorban akhirnya seekor ikan teri yang kecil mungil dan hanya mampu berjalan mengikuti arus dapat berubah menjadi seekor ika paus yang kuat dan memiliki gigi yang tajam.
            Namaku Putri yang biasa dipanggil Eyang Putri. Yang sekarang sudah menjadi seorang nenek-nenek tua yang tanpa mampu lagi berjalan tegap. Aku lahir pada tahun 1947. Dua tahun setelah hari kemerdekaan Indonesia. Tubuhku yang tak mampu berdiri tegap, kulit-kulit yang mengkerut. Tulang belulang yang hanya terbungkus dengan dengan selembar kulit ynag tak kuat lagi. Putri berarti anak perempuan raja, bukan berarti saya adalah seorang anak raja. Aku hanyalah seorang anak dari seorang laki-laki dan perempuan dari kalangan biasa saja. Tetapi keinginanku bukalah sekedar yang biasa-biasa saja. Aku memimpikan seseorang yang terkenal, bermartabat, dan disegani oleh setiap orang di dunia ini. Tapi aku hanyalah dilahirka dari seorang yang biasa saja yaitu seorang anak nelayan. Istana laut yang mencari pemenuh kebutuhan hidup yang serakah ini. Seluruh waktunya hanya digunakan untuk mendengarkan suara angin yang melambai-lambai, suara ombak yang bergemuruh, pohon-pohon kepala yang sedah asyik untuk berdendang bersama dengan barisan yang rapid an pohon yang lebar. Laut yang memiki banyak sekali sumber daya alam yang seharusnya dapat dimanfaat dengan maksimal akan tetapi hanya ikan, ikan, dan ikan yang mereka mengerti. Ketika mereka sibuk dengan kehidupan dilaut mungkin mereka tidak mengetahui mengenai pancasila, sumpah, pemuda, dan mungkin hari kemerdekaan pun mereka tidak tahu. Aku pernah melihat seluruh warga nelayan tersebut berkumpul bersama dikelurahan saya berfikir mungkin mereka sedang berdiskusi ternyata mereka sedang melihat layar tancap. Karena disetiap rumah mereka belum tentu ada televisinya. Pada tanggal 17 Agustus 1957 yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu usia saya 10 tahun. Semua stasiun tv hanya menyiarkan prosesi pengibaran dan penurunan bendera merah putih saja. Menurut beberapa orang momen tersebut adalah momen penting karena untuk mengingat kembali msa-masa kemerdekaan katanya. Aka tetapi bertolak belakang dengan Aku. Aku mungkin salah satu orang yang tidak memperdulikan hal tersebut. Karena menurut keluarga momen penting adalah mancari ikan dilaut. Aliasnya laut, laut, dan laut. Hanya itu saja. Melihat prosesi penurunan dan pengibaran bendera merah putih saya tak aku lihat apalagi untuk tahu menganai pancasila, sumpah pemuda, dan mungkin mereka tidak ingin kapan hari kemerdekaan Indonesia karena mereka sibuk dengan urusan dilautnya.
            Di Istanaku, istana yang memiliki kemiringan dalam pendidikan. Karena seluruh warga disana berfikiran lebih baik mencari uang,uang, dan uang. Ke laut, laut, dan laut. Aku berfikir seperti itu karena di istana kami tak ada satupun sekolah bahkan tak ada satu pun relawan guru untuk memberikan ilmu kepada kami. Dikota-kota sekolah dan guru adalah hal yang biasa karena pasti banyak dijumpai. Akan tetapi diistana kami tak kami temukan satupun. Sungguh malang istnaku yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Akan tetapi suatu hari ada seorang perempuan yang berbadan tinggi, bertubuh langsing, dengan rambut yang terurai indah panjang, dan bersepatu yang ketika melangkah memperlihatkan suara yang berjalan tegap dan tegas. Perempuan  itu bernama Ibu Laili. Ibu laili berasal dari Jepara Jawa Tengah. Ia lulusan dari Universitas ternama di Jawa Tengah. Ia lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Beberapa hari ia tinggal diistana kami ia mendatangi ketua dari istana nelayan. Kami kira ia ingin mendaftarkan dirinya sebagai warga istana kami yang baru akan tetapi ia ingin menjadi seorang guru di istana kami. Ia berkata kepada ketua kami.
“Pak, mohon maaf mengganggu. Saya Laili saya melihat disini tidak ada sekolah satu pun. Apakah memang disini tidak ada atau bagaimana Pak?”
“Begini Bu, Disini memang tidak ada sekolah satu pun karena tak ada satu pun guru yang berminat atau ditugaskan disini Bu.”
“Mengapa seperti itu Pak?”
“Saya kurang tahu, Bu.”
“Akan tetapi saya sudah berulang untuk kali menanyakan hal tersebut kepada pemerintah. Pemerintah sudah mengatakan Iya akan kami proses akan tetapi sampai sekarang tidak terwujud.”
“Bagaimana kalau saya mengajar disini Pak? Bolehkah?”
“Yakin ibu ingin mengajar di istaa kami ini?”
“Iya Pak saya saggup mengajar di istana ini Pak.”
“ Iya sudah  silahkan, Bu. Terima kasih ya Bu. Akhirnya di istana kami ada guru yang sanggup untuk mengajar. Sehingga di istana kami tidak megalami keterbelakangan dalam pendidikan.”
“Sama-sama Pak. Mohon bantuannya ya Pak.”
            Rasa yang luar biasa ketika saya mendengarkan hal baik itu dibolehkan oleh ketua istana. Tantangan terbesar bagaimana aku bisa membuat mereka anak-anak di istana tersebut tertarik dengan pengajaranku. Setelah mendengar keputusan itu Aku bergegas menata rumahku. Aku hiasi supaya mereka menarik untuk bersekolah. Rumah kecil yang sudah usah dan reyot adalah sekolah bagi mereka. Kemudia saya kekota untuk membelikan mereka buku, alat tulis, dan peralatan untuk bersekolah lainnya. Karena diistana itu tidak ada dijual barang-barang untuk sekolah karena disana tidak ada sekolah. Jangankan menjual barang-barang sekolah, barang-barang untuk nelayan saja jarang dijupai disini padahal itu merupakan kerja mereka satu-satunya.
            Waktu terus berputar waktunya aku mulai untuk berjuang. Aku mulai satu persatu mendatangi istana-istana yang indah-indah itu satu per satu. Aku mengajak ngobrol orang tua mereka kemudian aku bertanya kepada anak mereka apakah mereka ingin bersekolah atau tidak. Ketik saya bertanya kepada orang tuanya.
“Ibu, Bapak, perkenalkan saya Laili dari Istana Permai.” (dengan senyum dengan penuh harapan)
“Iya Bu, silahkan masuk Bu.”
“Ada apa ya Bu?”
“Begini Pak, Saya membuat Sekoalh di Istana ini. Saya ingin anak-anak di Desa ini Bersekolah Pak. Supaya ia tidak hanyamempunyai pekerjaan sebagai nelayan saja. Akan tetapi bisa menjadi guru, dokter, tentara, dan lain-lain.”
“Kalau saya terserah kepada anak Saya Bu.”
“Saya mau saya mau sekolah.”
“Baik Dik, besok mulai sekolah dirumah ibu ya.”
“Tidak perlu membawa alas tulis karena ibu sudah sediakan dan cukup pakai baju sehari-hari saja Nak, tak perlu memakai seragam ya Nak.”
“Baik Bu.”
“Yeee..yeeee… Aku sekarang sekolah.”
Aku melanjutkan ke istana-istana yang lain. Orang tuanya juga sama jawabannya seperti itu. Disitu aku merasa senang dan bersyukur. Dalam hatiku senang sekali. Hampir 20 istana yang saya datangi mereka ingin sekolah. Dalam hati juga berharap semoga mereka datang semua. Tetapi sekelibat tersirat pikiran jika mereka tidak berangkat. Karena orang tua mereka ekpresi yang diungkapan bertolak belakang dengan si anak.
            Hari keesokan aku tetap optimis jika dua puluh anak tersebut datang semua. Akan tetapi hari sudah mulai siang tak ada satupun langkah kaki yang terdengar. Bayangan pun mulai kelam. Hati mulai berdebar-debar, merasakan kebingungan yang mendalam. Sempat berfikir akankah perjuanganku ini sa-sia? Entahlah. Udara panas mulai menyemburkan sehingga aku mulai berfikir bagaimana jika aku yang mengunjungi mereka dirumahnya. Tanpa berfikir pnjang Aku mulai mengambil sandalku yang lusuh dan sepeda yang tedengar bunyi krek-krek-krek ketika di kayuh. Aku mulai berjalan diatas jalan yang halus sehingga ketika terkena hujan jalanan tersebut berubah menjadi lumpur. Ketika sudah mulai melewati istana-istana tersebut tertutup pintunya. Itu untuk rumah pertama. Aku berfikir mungkin rumah yang pertama mereka sedang pergi. Kemudian aku mengayuh sepedaku kembali menuju istana selanjutnya. Aku berharap semoga istana selanjutnya tidak tertutup pintunya. Ternyata benar, sesampainya diistana yang kedua memang tidak tertutup akan tetapi orang tuanya berkata seperti ini “Maaf Bu, anak saya tadi sudah berangkat ke laut untuk membantu ayahnya mencari ikan Bu.” Berfikir positif pun muncul mungkin anak tersebut lupa jika hari ini ada sekolah karena belum merupakan kebiasaan tetapi membantu orang tuanya dilaut adalah sebuah kebiasaaan. Aku mulai pamit dan kembali menuju rumah selanjutnya akan tetapi responnya juga sama. Rasa putus asa mulai menghampiri. Sehinngga hari kedua dan hari ketiga aku tak melakukan apa-apa. Hari keempat pagi-pagi aku ingin pergi ke pantai untuk menyegarkan otakku.
            Udara pantai memang menengkan, suara burung yang berperang, gemuruh ombak yang menggulung-gulung dengan tenang. Pagi itu, mulai para nelayang mulai berlayar. Tanpa aku sengaja utuk kepantai dengan alasan meneliti apakah benar anak tersebut membantu orangtuanya untuk berlayar akan tetapi untuk menenangkan fikiran. Akibat rasa penasaranku yang tinggi aku pun menyelidiki apakah benar anak-anak tersebut membantu orangtuanya dilaut. Ternyata setelah aku selidiki tak ada satu pun orag tua yang membawa anaknya pada hari kemarin dan kedepan karena ketua istana memrintahkan kepada orangtua yang memiliki anak supaya anaknya tidak mengikuti mencari ikan dilaut akan tetapi untuk bersekolah. Muncul rasa penasaran lagi mengapa dirumah tidak ada dan diluat tidak ada tetapi tidak bersekolah juga dirumahku. Ada kejanggalan yang mulai menghantui pikiranku. Aku mulai menyelidiki satu persatu.
            Aku mencari anak-anak tersebut ditempat bermain. Ternyata hanya ada dua orang anak yang bermain. Kemudian aku menghampirinya. Aku tidak mengira jika mereka meresponku seperti hantu. Tetapi aku kejar mereka. Kemudian hanya satu anak yang tertangkap.
“Saya ingin bersekolah Bu, akan tetapi orang tua saya tidak setuju Bu.”  
“Bukankah kemarin orangtuamu meyetujuinya?”
“Memang ketika didepan ibu mereka menyetujuinya. Tetapi sebenarnya mereka tidak setuju. Mereka tak mau memperlihatkan tidak setujunya mereka.”
“Alasannya apa Nak?”
“Saya hanya boleh dirumah membantu ibu dan ayah saja. Tetapi saya ingin bersekolah Bu.”
“Baiklah, besok ibu coba untuk menghubungi orangtua mu dan menjelaskannya.”
Keesokan harinya saya menuju rumah si Anak tersebut. Anaknya bernama Rizi. Waktu yang epat ternyata ayah dan ibunya Rizi ada dirumah. Ketika aku sedang menaruh sepeda  dengan bergegas ibu dari Rizi menutup pintunya. Kemudian  aku mengetuk pintunya. Tak ada shutan sedikit pun padahal tadi jelas-jelas terbuka. Setelah tiga jam aku menunggunya di depan istananya. Orang tua dari Rizi membukakannya. Dengan nada yang tinggi orangtuanya berkata kepadaku.
“Ada apa Anda kesini!”
“Mohon maaf sebelumnya Bu. Saya disini hanya ingin menjelaskan menengai pentingnya sekolah dan mengajak anak ibu untuk bersekolah.”
“Sudah pergi saja! Lebih baik anak saya membantu kami bekerja daripada bersekolah! Hanya meghabiskan uang saja!”
“Tidak Bu. Dengan belajar anak itu akan mendapatkan ilmu dan ilmu tersebut akan membantu anak ibu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan mendapatkan gaji yang lebih tinggi Bu. Sehingga kehidupan ibu dan bapak dapat terangkat.”
Kemudian ibu dan bapak tersebut membuka pintunya dengan perlahan dan berkata “Iya sudah saya menyetujui anak saya untuk bersekolah.” Rasa syukur yang teramat dalam dan seyum yang merekah dari bibirku. Kemudian orangtuan dari dua puluh anak tersebut mengikuti  untuk memperbolehkan anaknya mengikuti sekolah. Hari yang sangat indah. Aku berpesan kepada anak-anakku jangan sia-siakan kepercayaan orangtua kalian untuk bersekolah. Lakukan yang terbaik untuk mereka. Angkatlah derejat dan martabat mereka. Persekolahan pun berjalan dan alhamdulilah kami mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membangun sekolah dan pada akhirnya istana yang berisikan sumber daya yang melimpah itu kemudian tidak hanya ikan saja yang merekan manfaat tetapi kelapa, pantainya yang dijadikan obyek wisata, dll karena mereka punya ilmu dan kemauan. Sehingga mereka bisa merubah perekonomian tersebut dan mensejahteraankan Istana Nelayan.