Kamis, 26 November 2015

Legenda Kyai Balun

Legenda Kyai Balun

Nama Kyai Balun adalah sebutan bagi Pangeran Anom, yang juga mempunyai nama Pangeran Panjaringan. Disebutkan, setelah pusaka yang hilang berhasil diketemukan kembali, para pangeran yang menemukannya tidak kembali ke Panolan, melainkan terus bermukim di Desa Trisnan dan di Desa Giyanti. Hal itu dilakukan karen mereka mendengar kabar bahwa sepeninggala saudara-saudaranya untuk mencari pusaka, perbuatan Pangeran Benawa dalam pemerintahnya kurang mendapatkan simpati masyarakat.
Pangeran Giri Kusuma lalu memerintahkan kepada Pangeran Anom untuk memata-matai Panolan dari seberang barat. Untuk itu Pangeran Anom lalu melepas busana ksatrianya, berganti dengan pakaia orang kebanyakan. Busana kstrianya beganti dengan pakaian orang kebanyakan. Busana ksatriannya lalu ditanam di bawah pohon beringin di sebelah timur Desa Giyanti. Tempat dimana pakian Pangeran Anom ditanam kemudian disebut dengan nama Desa Ringin Anom.

Pangeran Anom lalu pergi ke arah sebelah Barat Laut Panolan, bermukim di Gunung Kedinding. Di tempat tersebut beliau lalu bertapa sembari melihat keadaan Kadipaten Panolan. Pada suatu waktu Pangeran Anom ingin pergi ke bagian timur untuk lebih mendekati daerah kekuasaan Pangeran Bewana. Pada saat itu beliau berganti nama Pangeran Panjaringan. Sesampainya kadang-kadang kelihatan, kadang-kadang tidak (cat katon cat ora). Kemudian putri yang ternyata bernama rara Sekar tersebut diperistri. Selanjutnya Pangeran Panjaringan menetap di desa tersebut dan menjadi kyai bernama Kyai Balun. Adapun tempat dimana Rara Sekar diketemukan dinamakan “Belun Sri Katon”. (Khasanah Legenda Blora, an,tt).

SUMBER : Buku Penelusuran dan Pengkajian Cerita Rakyat di Kabupaten Blora. Penerbit Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.