Kamis, 26 November 2015

Asal Usul Nama Blora

ASAL USUL NAMA BLORA 

Asal usul nama Blora dan artinya sampai sekarang belum jelas. Menurut cerita rakyat, kata”Blora” berasal dari kata “belor” yang artinya “lumpur” atau “tanah becek”. Selanjutnya kata “belor” berkembang menjadi “beloran” atau mbeloran” yang juga berarti “tanah lumpur”. Dalam perkembangan elanjutnya, kata “beloran” atau “mbeloran” diucapkan dengan kata “bloran” atau “mbolaran”. Kata tersebut biasanya dipergunakan untuk menyebutkan nama suatu tempat yang mempunyai spefisikasi atau ciri-ciri seperti tersebut. Akan tetapi sampai saat ini tidak ada desa di Kabupaten Blora yang namanya menunjukan ke arah pengertian tersebut (Riyanto,dkk,1987:4)
Cerita lain menyebutkan bahwa nama “Blora” berasal dari kata “belo lara” (anak kuda sakit), yaitu seekor anak kuda tunggang yag dihadiahkan oleh Asisten Residen Rembang kepada senapati Ngadi yang telah berhasil memandamkan pemberontakan Naya Gimbal / Naya Sentika sehingga dia diangkat menjadi bupati di Karangjati yang semula hanya berupa Kawedanan. Adapun ceritanya adalah sebagai berikut.
CERITA RAKYAT DI KABUPATEN BLORA
Tersebutlah di Kadipaten Begir ada pemberontakan yang dipimpin oleh sisa-sisa laskar prajurit Diponegaraan yang bernama Naya Sentika, yang oleh karena rambutnya panjang dan tidak terurus (gimbal), maka dia kemudian dikenal dengan sebutan “Naya Gimbal”. Sebagai cucu prajurit pribumi, sebagaimana halnya para leluhurnya dalam jiwa Naya Gimbal sudah tertanamrasa nasionalisme yang tinggi. Dia sangat anti penjajah beserta antek-anteknya, termasuk para bupati atau wedana yang membantu Belanda.
Naya Gimbal berserta para prajuritnya menyerang Kadipaten Bangir yang termasuk dalam afdeling Asisten Resident Rembang, Resident Jepara Rembang. Sebagai pembantu pemerintah Bengir, adalah tumenggung (wedana) Karangjati bernama “Ngadi”, yang merupakan adik kandung Bupati Bengir. Wedana Ngadi orangnya lumpuh, akan tetapi sangat sakit.
Atas terserangnya prajurit Naya Gimbal, Kadipaten Bengir merasa kewalahan, bahkan senapati perang Kadipaten Bengir yang bernama Begede Jetis gugur dalam pertempuran tersebut. Pertempura yang menewaskan senapati Begede Jetis tersebut terjadi di sawah Balung Gembung, sebelah selatan Mlangsen. Oleh para pengikutnya, jenazah Begede Jetis dimakamkan di Desa Jetis.
Untuk memadamkan pemberontakan tersebut, akhirnya Bupati Bengir mendapatkan petunjuk gaib (wangsit), nbahwa yang dapat mengalahkan Naya Gimbal adalah adiknya sendiri yang bernama Ngadi. Oleh karena itu, Bupati Bengir lalu memberitahukan hal tersebut kepada adiknya. Ngadi pun lalu maju perang dengan cara ditandu.
Wedana Ngadi mempunyai pusaka ampuh berupa tombak dapur “Godong Andong”. Dengan pengaruh kewibawaan pusakanya tersebut akhirnya dia berhasil menghalau dan mengalahkan prajurit Naya Gimbal. Wedana ngadi mendapat petunjuk gaib (wangsit) untuk menguburkan jenazah senapati sebelumnya, yaitu Begede Jatis di sebelah utara Jetis, ditempat yang tanhnya tinggi (pojok). Oleh karena makamnya berada di tanah yang tinggi (pojok), akhirnya Begede Jetis juga mendapat sebutan “Suman Pojok”
Adapun Wedana Ngadi, oleh karena telah berjasa berhasil memadamkan pemberontakan Naya Gimbal, ats ijin Asisten Residen Rembang dia mendaptkan hadiah separoh wilayah Kadipaten Bengir sgar semangka (dibagi dua sama rata), bagian selatan, dan sekaligus dia diangkat menjadi Bupati. Pada saat pelantikannya sebagai bupati, Ngadi ingin memberikan nama kabupatennya, namun belum juga mendapat ide. Pada waktu pelantikan tersebut, dari Asisten Residen Rembang dia mendapatkan hadiah berupa seekor kuda tanggang (kuda teji) yang masih muda (belo) tersebut jatuh sakit (lara). Oleh karena itu, ngadi lal memberi nama wilayah kabupatennya dengan nama “Blora”, yang merupakan kependekan dari kata “belo lara”.

Pemerintahan Bupati Ngadi sangat baik. Rakyat merasa senang dan tentram. Singkat cerita, Bupati Ngadi akhirnya meninggal dunia dalam usia lanjut. Sebelum mangkat beliau berpesan berbatasan dengan kabupaten Bengir. Masyarakat Blora menyebut makam Bupati Ngadi dengan sebutan “Ngadi Purwa”, berasal dari kata “purwa” yang berarti pemula. Sebutan tersebut berdirinya Kabupaten Blora. (Khasanah Legenda Blora,an,tt:th)

SUMBER : Buku Penelusuran dan Pengkajian Cerita Rakyat di Kabupaten Blora. Penerbit Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.