Kamis, 26 November 2015

Legenda Aria Penangsang

Legenda Aria Penangsang

Aria Penangang adalah seorang keturunan Raja Demak, cucu Sultan Trenggono, Raja Demak yang berkuasa dari tahun 1521-1546 M. Aria Penangsang putra dari anak tertua Sultan Trenggono, yang oleh karena beliau mati dari anak tertua Sultan Trenggono, yang oleh karena beliau mati terbunuh di sungai maka disebutl Pangeran Seda Lepen. Menurut beberapa sumber, Sultan Trenggono mempunyai 5 orang putra, yaitu :
1.      Pangeran Seda Lepen
2.      Pangeran ratu (Sunan Prawata)
3.      Pengeran Jipang
4.      Ratu Arya Jepara (Ratu Kalinyamat)
5.      Ratu Sedeng Laut
Sultan Trenggono meninggal mendadak pada tahun 1546 M, pada saat melakukan ekspedisi ke Panarukan. Sepeninggalan Sultan Trenggono, di Demak terjadi perebutan kekuasaan hingga jatuh korban di lingkungan keluarga istana. Korban pertama adalah Pangeran eda Lepen, putra tertua Sultan Trenggono, ayah Arya Penangsang, yang dibunuh atas perintah Pangeran Prawata, yaitu putra kedua Sultan Trenggono.
Sepeninggalan Pangeran Seda Lepen, Pangeran Prawata menjadi anak laki-laki tertua Sultan Trenggono sehingga dialah yang berhak naik tahta menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Demak. Anak Pengeran Seda Lepen, yang bernama Arya Penangsang tidak terima atas kematian ayahnya. Dia menuntut balas atas kematian ayahnya. Lalu di Kalinyamat (jepara) yang dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat.
Arya Penangsang membunuh sunan Prawata untuk balas dendam karena jika Seda Lepen tidak dibunuh, maka  beliaulah yang berhak menggantikan kedudukan Sultan Trenggono, kakeknya, sebagai Raja Demak. Dengan demikian dialah yang kelak berhak mewarisi tahta dinasti Kerajaan Demak, karena dia adalah keturunan laki-laki dari anak laki-laki tertua Sultan Trenggono. Dengan meinggalnya Pangeran Seda Lepen. Pupuslah kesempatan Arya Penangsang untuk mewarisi tahta Kerajaan Demak yang sebenarnya sudah di depan mata. Adapun Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Kalinyamat karena beliau juga merupakan ancaman bagi dirinya untuk meraih haknya atas tahta Kerajaan Demak. Hal itu karena disamping baliau orangnya cakap. Bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat, walaupun seorang perempuan juga sangat cakap. Terbukti sepeninggalan suaminya, (Pangeran Kalinyamat), beliau menjadi pusat keluarga Demak yang sudah tercerai berai. Beliaulah yang mengasuh dan mengurusi seluruh keluarga. Selain itu, walaupun hanya seorang janda, beliau mampu merajai kota pelabuhan Jepara dengan sukses.
      Dengan meninggalanya Sunan Prawata dan Pangeran Kalinyamat, Arya Pennagsang menjadi keturunan laki-laki tertua Sultan Trenggono. Dengan demikian dia berhak kembali atas tahta Kerajaan Demak. Namun sepeninggal Sunan Prawata yang ditunjuk untuk menggantikan tahta Kerajaan demak adalah Pangeran Kediri Pengeran Pangiri, anak laki-laki Pengeran Seda Lepen, yang berarti saudara Arya Penangsang. Akan tetapi kedudukan Pangeran Kediri atau Pangeran Pangiri sebagai Raja Demak hanya semacam kedudukan simbolis karena dalam mengatur jalannya pemerintahan masih di bawah perlindungan Sultan Pajang, pamannya.
Menurut ceita tutur Jawa, Arya Penangsang menjadi adipati, yag menguasai wilayah Jipang Panolan. Arya Penangsang juga disebut dengan nama Arya Jipang. Sebagaimana diketahui, Jipang dan Panolan adalah dua nama tempat yang berbeda, yang kini berada di wilayah Kabupaten Blora. Dengan begitu dapat diartikan bahwa Arya Penangsang adalah penguasa di dua wilayah tersebut sekaligus.
Sebagaimana disebutkan di depan, disamping Pangeran Seda Lepen yang merupakan ayah dari Arya Penangsang, Sultan Trenggono juga mempunyai putra yang bernama Pangeran Jipang. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa Arya Penangsang disamping mewarisi wilayah kekuasa ayahnya, yaitu Pangeran Seda Lepen, yang mengkin bernama Panolan, dia juga mewarisi wilayah kekuasaan Pamannya, yaitu wilayah Jipang dan wilayah Panolan, sehingga dikenal dengan sebutan Adipati Jipang Panolan, yang merupakan wilayah bawahan Kerajaan Demak.
Arya Penangsang akhirnya dikalahkan oleh Jaka Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang menjadi adipati di Pajang, atas permintaan Ratu Kalinyamat yang merasa sakit hati karena dia permintaan Ratu Kalinyamat yang merasa sakit hati karena dia telah membunuh suaminya. Disebutkan Ratu kalinyamat bersumpah atas nama suaminya, bahwa selama pembunuh suaminya masih berada di muka bumi, beliau tidak akan mengenakan buasana, melainkan hanya menutupi tubuhnya dengan rambutnya yang panjang tergerai. Keberhasilan Jaka Ageng Pemanahan dan Sutawijaya diberi hadiah “hutan Mentaok”, yang kelak menjadi kerajaan besar bernama Mataram di bawah pimpinan Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.
Dengan kemenangannya atas Arya Penangsang, telah mengangkat penguasa Pajang (Jaka Tingkir) langsung ke jenjang kekuasaan tertinggi di Jawa tengah. Ia lalu mengubah tempat kediamannnya di Pajang menjadi ibukota kerajaan, dan mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Sultan Hadiwijoyo. Adapun ibukota lama, Demak, kemudian menjadi ibukota daerah, yang berada di bawah kekuasaan Raja Pajang. Sepeninggalan Arya Penangsang, wilayah Jipang Panolan diamil alih oleh Sultan Hadiwijaya, kemudian diserahkan kepada putranya yang bernama Pangeran Benawa.
Pada saat Mataram tumbuh menjadi sebuah kerajaan yang semakin besar, Sultan Pajang mengkhawatirkan apabila kebesaran Mataram akan mengancam keberadaan Kerajaan Pajang. Oleh karena itu Raja Pajang lalu berusaha memperingatkan Raja Mataram, yaitu Paembahan Senopati atau Sutawijaya yang sudah diangkatnya sebagai anak. Akan tetaapi Panembahan Senopati tidak menghiraukannya, hingga akhirnya pecah perang terbuka antara Kerajaan Pajang dan Mataram.

Pasukan Pajang tidak berhasil mengalahkan bala pasukan Mataram,karena pasukan Mataram dibantu oleh pasukan makhluk halus, anak buah ratu jin penguasa laut selatan. Atas kekalahnya dalam melawan pasukan Mataram membuat hati Sultan Hadi Wijaya merasa sedih dan jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Sepeninggalan Sultan hadi Wijaya Kerajaan Pajang beserta seluruh wilayah bawahannya jatuh di bawah kekuasaan mataram, termasuk wilayah Kadipaten Jipang Panolan (Graf dan Pegeaud, 1985).

SUMBER : Buku Penelusuran dan Pengkajian Cerita Rakyat di Kabupaten Blora. Penerbit Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora.