Selasa, 02 Januari 2018

Buku Bergambar Sarana Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak

JUDUL
BUKU BERGAMBAR SARANA MENUMBUHKAN
MINAT BACA PADA ANAK

Oleh Nurlaili Irias Putri
FBS Universitas Negeri Semarang

ABSTRAK

Minat baca merupakan keinginan untuk membaca dalam diri anak. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyrakat dapat mempengaruhi minat baca pada anak. Rendahnya minat baca pada anak di era modern ini, kita dituntut untuk berfikir kreatif. Menggunakan media buku bergambar mampu untuk menarik minat anak dalam membaca buku. Pada usia anak-anak enam sampai tujuh tahun sudah saatnya mereka dituntut untuk mampu membaca. Pada usia tersebut anak lebih menyukai untuk melihat gambar daripada melihat tulisan. Karena di usia 5 tahun kebawah mereka hanya mengenal gambar. Buku bergambar merupakan buku yang ditata menggunakan lebih bayak gambar daripada kata. Ada beberapa jenis buku bergambar, yaitu (1) buku abjad, (2) buku mainan, (3) buku konsep, (4) buku bergambar tanpa kata, dan (5) buku cerita bergambar. Manfaat buku bergambar, yaitu (1) sangat mudah diingat dan dipahami, (2) menambah wawasan dan kecerdasan otak anak, dan (3) sebagai bahan ajar.  
Kata Kunci : Buku Bergambar, Minat Baca, Anak

Pendahuluan
            Minat baca pada anak-anak sekolah dasar tingkat rendah masih kurang. Terbukti ketika dihadapkan dengan dua pilihan antara bermain atau membaca buku pasti mereka lebih memilih untuk bermain. Pada usia anak-anak sekolah dasar tingkat rendah tujuh sampai sembilan tahun  menjadi hal terpenting dalam mengikuti sekolah. Sidik (2007:3) menyatakan bahwa bakat atau pembudayaan minat baca, yang dipengaruhi lingkungan bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekolah, dan (3) lingkungan masyarakat. Selain itu ada faktor lain terhadap berkurangnya minat membaca, yaitu (1) kurangnya motivasi dalam diri anak dalam membaca, (2) ketersediaan buku-buku pelajaran yang menarik, (3) Lingkungan sekolah, keluarga, dan bermain yang tidak mendukung, dan (4) harga buku mahal.
Pernyataan minat baca dipengaruhi lingkungan juga diperjelas berdasarkan UU NO 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan yang menyatakan pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengembangkan minat baca anak, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Salah satu cara untuk menarik dalam meningkatkan minat baca anak yaitu dengan memberikan buku-buku bergambar. Karena buku bergambar mempunyai efek visualisasi yang dapat merangsang mata untuk menikmati gambar dan memahami teks yang memberi penjelasan pada gambar. Pada usia tujuh sampai sembilan tahun anak-anak masih suka untuk melihat gambar daripada teks bacaan.
Salah satu cara untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak dapat dilakukan dengan buku bergambar. Nurgiyantoro (2010:152) menyatakan bahwa buku bergambar merupakan salah satu strategi dalam menarik perhatian anak dan pembaca pada umumnya. Buku bergambar menjadi daya tarik untuk semangat membaca buku. Ilustrasi yang dimaksudkan dalam bacaan memperjelas makna kata. Karena ilustrasi merupakan teks visual dengan maksud agar buku tampil menarik dan anak tertarik untuk membaca buku. Kekhawatiran dari orang tua kepada anaknya ketika sudah memasuki sekolah dasar karena kurangnya minat terhadap membaca. Sekolah dasar akan menuntut siswanya untuk mampu dalam membaca. Akan tetapi biasanya siswa kelas satu, dua, bahkan tiga masih kesulitan untuk membaca.
Jadi, untuk menarik minat baca pada anak-anak buku bergambar sebagai media yang tepat. Karena dalam proses membaca buku bergambar dapat meningkatkan dan memotivasi dalam belajar dengan senang, mudah untuk dipahami dan diingat. Demikian itu, anak tertarik terhadap minat membacanya dalam melihat gambar-gambar bercerita yang ditampilkan didalam buku bergambar.



Buku Bergambar
Rothlein, L., & Meinbach, A. M., (1991:132) menyatakan bahwa Buku bergambar adalah buku cerita yang disajikan dengan menggunakan teks dan ilustrasi atau gambar. Buku ini biasanya ditujukan pada anak-anak. Untuk anak usia SD kelas rendah, gambar berperan penting dalam proses belajar membaca dan menulis. Buku bergambar lebih dapat memotivasi mereka untuk belajar. Dengan buku bergambar yang baik, anak-anak akan terbantu dalam proses memahami dan memperkaya pengalaman dari cerita.
Lynch-Brown, Carl M dan Tomlinson (1999:68) menyatakan bahwa buku bergambar adalah buku-buku bergambar banyak mengandung ilustrasi, untuk berbagai  derajat dan penting untuk dinikmati dalam cerita. Untuk alasan ini, ilustrasi gambar dalam buku-buku dikatakan integral cerita. Ilustrasi dalam buku-buku bergambar menyediakan plot aktual atau informasi konsep serta petunjuk untuk jalan tokoh, setting, dan suasana hati. Selama periode waktu, evoluation dan seleksi buku gambar menjadi kenikmatan membaca bagi anak. Franz (1994:26) menyatakan bahwa buku bergambar adalah setiap buku yang didalamnya terdapat gambar-gambar. Buku bergambar yang fungsi gambarnya hanya membantu dan sekedar untuk menjelaskan teks. Priyono (2006:3) menyatakan bahwa buku bergambar yang artistik, bahasa yang baik, penampilan fisik buku yang bagus dapat menggugah imajinasi dan motivasi untuk membaca buku. Ilustrasi gambar dan bahasa yang asal-asalan, maka anak akan mendapatkan pengalaman bahwa membaca itu membosankan.
Menurut Online Dictionary For Library and Information Science menjelaskan “picture book” merupakan sebuah buku yang terutama terdiri dari konten visual, dengan teks. Nurgiyantoro (2010:154) menyatakan bahwa gambar  dalam buku mengandung cerita. Gambar digunakan untuk memperkaya teks, mengkonkretkan karakter dan alur secara naratif serta digunakan sebagai daya tangkap dan imajinasi anak terhadap narasi teks yang masih terbatas. Dengan  buku bergambar mampu merangsang imajinasi anak dan membantu anak dalam memperkaya imajinasi. Selain itu, kegiatan membaca buku bergambar akan membantu anak lebih memahami hubungan cerita dan gambar, juga menanamkan kesadaran pada diri anak akan pentingnya aktifitas membaca untuk dapat memperoleh informasi. Jadi, buku bergambar adalah salah satu media yang digunakan untuk memacu minat baca pada anak dengan menggunakan gambar sebagai ilustrasinya.
Rothlein dan Meinbach (1991:35) menyatakan bahwa ada lima jenis buku bergambar, yaitu (1) buku abjad, (2) buku mainan, (3) buku konsep, (4) buku bergambar tanpa kata, dan (5) buku cerita bergambar.
a.       Buku abjad
Dalam buku alfabet, setiap huruf alfabet dikaitkan dengan suatu ilustrasi objek yang diawali dengan huruf. Ilustrasi harus jelas berkaitan dengan huruf-huruf kunci dan gambar objek dan mudah teridentifikasi. Beberapa buku alfabet diorganisasi pada sekitar tema khusus, seperti peternakan dan transportasi. Buku alfabet berfungsi untuk membantu siswa, menstimulasi, dan membantu pengembangan kosakata.
b.      Buku mainan
Buku-buku mainan menggunakan cara penyajian isi yang tidak biasa. Buku mainan terdiri dari buku kartu papan, buku pakaian, dan buku pipet tangan. Buku mainan ini mengarahkan anak-anak untuk lebih memahami teks, dapat mengeksplorasi konsep nomor, kata bersajak dan alur cerita. Buku mainan membantu anak-anak untuk mengembangkan keterampilan kognitif, meningkatkan kemampuan bahasa dan sosialnya, dan mencintai buku. Sikap positif terhadap membaca dapat ditumbuhkan dengan buku ini. Jenis buku mainan, yaitu (1) buku bergambar berlubang, (2) buku bergambar pop-ups, (3) buku bergambar berlipat, (4) buku bergambar bersampul tebal, dan (5) buku bergambar bersampul bantal (untuk bayi) atau buku mainan.
c.       Buku konsep
Buku konsep adalah buku yang menyajikan konsep dengan menggunakan satu atau lebih contoh untuk membantu pemahaman konsep yang sedang dikembangkan. Konsep-konsep yang ditekankan diajarkan melalui alur cerita atau dijelaskan melalui repetisi dan perbandingan. Melalui berbagai konsep seperti warna, bentuk, ukuran, dapat didemonstrasikan sendiri dengan konsep yang lainnya. Jenis buku konsep adalah buku bergambar bertekstur.
d.      Buku bergambar tanpa kata
Buku bergambar tanpa kata adalah buku untuk menyampaikan suatu cerita melalui ilustrasi saja. Buku bergambar tanpa kata menjadi berkembang dan populer pada masyarakat generasi muda. Ini terdapat ditelevisi, komik, dan bentuk visual lainnya dari komunikasi. Alur cerita disajikan dengan gambar yang diurutkan dan tindakan juga digambarkan dengan jelas. Buku bergambar tanpa kata terdiri dari berbagai bentuk, seperti buku berupa buku humor, buku serius, buku informasi atau buku fiksi. Buku ini mempunyai beberapa keunggulan, misalnya untuk mengembangkan bahasa tulis dan lisan secara produktif yang mengikuti gambar. Keterampilan pemahaman juga dapat dikembangkan pada saat anak membaca cerita melalui illustrasi. Anak-anak menganalisis maksud pengarang dengan mengidentifikasi ide pokok dan memahami ceritanya. Jenis buku bergambar tanpa kata adalah buku bergambar karton.
e.       Buku cerita bergambar
Buku cerita bergambar memuat pesan melalui ilustrasi dan teks tertulis. Dua bagian tersebut merupakan bagian penting pada cerita. Buku-buku ini memuat berbagai tema yang sering didasarkan pada pengalaman kehidupan sehari-hari anak. Karakter dalam buku ini dapat berupa manusia atau binatang. Di sini ditampilkan kualitas manusia, karakter, dan kebutuhan, sehingga anak-anak dapat memahami dan menghubungkannya dengan pengalaman pribadinya. Buku bergambar yang baik memuat  intrinsik  sastra,  seperti  alur,  struktur  yang  baik,  karakter  yang baik perubahan gaya, latar, dan tema yang menarik. Buku cerita bergambar dapat memberikan apresiasi bahasa dan mengembangkan komunikasi lisan, mengembangkan proses berpikir kognitif, ungkapan perasaan, dan meningkatkan kepekaan seni. Jenis buku cerita bergambar yaitu buku bergambar dengan teks panjang dan buku bergambar dengan teks pendek.
Nugiyantoro (2010:159) menyatakan bahwa fungsi dan pentingnya buku bergambar, yaitu (1) membantu perkembangan emosi anak (2) membantu anak belajar tentang dunia dan keberadaannya (3) belajar tentang orang lain yaitu hubungan yang terjadi dan pengembangan perasaan, memperoleh kesenangan, untuk mengapresiasi keindahan, dan (4) menstimulasi imajinasi.
Buku Bergambar Sarana Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak
Penyebab minat baca pada anak rendah, karena  (1) kurangnya motivasi dalam diri anak dalam membaca, kurangnya motivasi dalam diri anak dalam membaca dapat terjadi karena sejak kecil dari orang tuanya tidak mendidik mengenai pentingnya membaca. Orang tua sibuk denga kepentingannya masing-masing. (2) ketersediaan buku-buku pelajaran yang menarik, demikian pula, ketika disekolah anak-anak tidak disediakan buku-buku pelajaran yang menarik, maksudnya buku-buku yang sesuai dengan usia mereka, buku yang seperti apa yang mereka minati. Seharusnya guru membeli buku sesuai dengan usia siswa dan kurikulum, jangan sesuai dengan keinginan guru. (3) Lingkungan sekolah, keluarga, dan bermain yang tidak mendukung, lingkungan yang setiap hari menjadi tempat beraktivitas mereka tidak mendukung aktivitas untuk membaca dan (4) harga buku mahal, kemudian ketika anak sudah menarik dengan buku tersebut, tetapi buku tersebut harganya mahal. Tingkat perekonimian masing-masing anak memiliki tingkat yang berbeda-beda. Sehingga anak yang memiliki tingkat perekonomian tinggi, ia mampu membeli buku mahal dan yang ia sukai pasti minat bacanya tinggi karena tercukupi. Sebaliknya bagi anak yang memiliki tingkat perekonomian rendah.
Buku bergambar sebagai sarana untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Ada beberarapa manfaat buku bergambar, yaitu (1) sangat mudah diingat dan dipahami, dengan buku bergambar anak mudah mengingat karena pada masa tersebut anak lebih mudah mengingat gambar daripada teks. (2) menambah wawasan dan kecerdasan otak anak, ketika buku bergambar tersebut dibaca akan menambah wawasan anak terhadap buku gambar yang dibacanya dan dengan buku bergambar melatih otak anak menebak cerita-cerita dari buku bergambar tersebut sebelum membaca bacaanya (3) sebagai bahan ajar untuk membaca, setiap buku bergambar dapat digunakan sebagai bahan ajar karena setiap buku bergmbar pasti memiliki tujuan dan nilai-nilai yang dapat dipentik bagi yang membaca.
Pada usia anak-anak tujuh sampai sembilan tahun yang berada pada tingkat rendah sekolah dasar, anak-anak mulai diharuskan untuk dapat membaca. Piaget (1990:28) menyatakan bahwa anak dalam usia tujuh sampai sepuluh tahun berada pada tahap operasional kongkrit, dimana cara berpikir siswa masih didasarkan pada bantuan benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang langsung dilihat dan dialaminya.  Sehingga media buku bergambar sangat tepat untuk mengajarkan membaca pada mereka.
Penutup
            Kelancaran anak dalam membaca menjadi salah satu kunci dalam kesuksesan akademis. Minat membaca pada anak di era moern ini mulai turun, sehingga harus ada media yang tepat untuk mengajak anak untuk membaca. Salah satu media yang digunakan untuk menumbuhkan minat baca pada anak yaitu dengan media buku bergambar. Dengan media buku bergambar membuat anak menjadi senang membaca, mampu berfikir kreatif, mendapatkan wawasan, melatih kecerdasan otak anak. 
Daftar Pustaka
Franz, Kurt dan Bernhard Meier. 1994. Membina Minat Baca. Bandung: Remaja Rosdakarya
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Priyono, Sugeng Agus. 2006. Perpustakaan Atraktif. Jakarta: PT Gramedia Widisarana Indonesia
http://digilib.um.ac.id/ (Diakses tanggal 22 Desember 2016 pukul 15.12 WIB).
http://digilib.uinsuka.ac.id/ (Diakses tanggal 22 Desember 2016 pukul 15.12 WIB)
http://www.digilib.itb.ac.id/ (Diakses tanggal 22 Desember 2016 pukul 15.12 WIB).